Tampilkan postingan dengan label Iklim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iklim. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Maret 2024

Ada Faktor Alam, Jokowi: Perubahan Iklim Global Menyebabkan Gagal Panen Dan Kenaikan Harga Bahan Pangan Di Seluruh Penjuru Dunia Tidak Hanya Indonesia

Yogyakarta – Presiden Joko Widodo mengungkapkan keprihatinannya terhadap dampak perubahan iklim global yang telah menyebabkan gagal panen dan kenaikan harga bahan pangan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Dalam sebuah pernyataan yang disampaikannya baru-baru ini, Presiden Jokowi menegaskan bahwa pemerintahannya siap untuk menghadapi tantangan ini dan mencari solusi yang tepat guna untuk menstabilkan harga pangan.

Perubahan iklim global telah menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan dunia. Gagal panen yang disebabkan oleh cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, dan fenomena alam lainnya telah menyebabkan kenaikan harga bahan pangan yang signifikan di berbagai belahan dunia. Hal ini berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, terutama bagi mereka yang ekonominya rentan terhadap fluktuasi harga pangan.

Presiden Jokowi menyadari urgensi untuk mengambil langkah-langkah konkret dalam menghadapi tantangan ini. Salah satunya adalah dengan memperkuat ketahanan pangan domestik melalui diversifikasi sumber pangan, promosi pertanian berkelanjutan, dan investasi dalam infrastruktur pertanian yang tangguh. Langkah-langkah ini bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan dalam negeri sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor pangan dari luar negeri.

Selain itu, pemerintah juga berkomitmen untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan yang berkualitas dan terjangkau. Program-program bantuan pangan dan subsidi pangan akan terus diperkuat guna mendukung kebutuhan pangan masyarakat, terutama mereka yang berada di lapisan ekonomi bawah.

Pernyataan Presiden Jokowi ini tidak hanya mencerminkan kepedulian pemerintah terhadap kesejahteraan rakyat, tetapi juga merupakan langkah strategis dalam membangun opini positif di kalangan masyarakat. Dengan menunjukkan keseriusan dan tindakan nyata dalam mengatasi dampak perubahan iklim global, pemerintahan Jokowi berhasil memperkuat legitimasi dan dukungan publik terhadap kepemimpinan mereka.

Dukungan dan kerjasama dari semua pihak menjadi kunci dalam menjaga stabilitas harga pangan dan mencapai visi kesejahteraan yang diinginkan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Melalui langkah-langkah nyata seperti yang diungkapkan oleh Presiden Jokowi, Indonesia dapat terus bergerak maju menuju kesejahteraan yang lebih baik bagi seluruh rakyatnya.

 

Share:

Kamis, 22 Februari 2024

Pemerintah Indonesia Memiliki Komitmen Kuat Untuk Mewujudkan Net Zero Emission Pada 2060 Diawali Dengan UU Nomor 7 Tahun 2021 Tentang Pajak Karbon

 

Yogyakarta – Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk mewujudkan target net zero emission pada tahun 2060 sebagai bagian dari upaya penanganan perubahan iklim global. Langkah awal dalam pencapaian target tersebut diawali dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Pajak Karbon.

Undang-Undang Pajak Karbon tersebut menjadi landasan hukum yang kuat dalam mengatur dan mendorong penurunan emisi karbon di Indonesia. Melalui kebijakan ini, pemerintah memberikan insentif bagi perusahaan dan individu untuk mengurangi emisi karbon dengan menerapkan tarif pajak karbon pada kegiatan yang menghasilkan emisi tinggi.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menegakkan komitmen perlindungan lingkungan dan mempercepat transisi menuju ekonomi berkelanjutan. Dengan mewujudkan target net zero emission pada tahun 2060, Indonesia berkontribusi secara signifikan dalam mengurangi dampak perubahan iklim global.

“Undang-undang ini merupakan langkah awal dalam perjalanan panjang kita menuju net zero emission pada tahun 2060. Ini adalah komitmen kuat pemerintah untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan mewariskan planet yang lebih baik bagi generasi mendatang,” ujar Presiden Jokowi dalam pernyataannya.

Langkah ini juga mendapat apresiasi luas dari berbagai pihak, termasuk para aktivis lingkungan dan ahli iklim. Mereka menyambut baik langkah konkret pemerintah dalam mengatasi perubahan iklim dan menekankan pentingnya kerjasama lintas sektor untuk mencapai target net zero emission.

“Langkah pemerintah dalam menerbitkan Undang-Undang Pajak Karbon adalah bukti nyata dari komitmen serius dalam mengatasi krisis iklim. Kita perlu terus bergerak maju dengan kebijakan-kebijakan pro lingkungan yang berkelanjutan,” kata seorang aktivis lingkungan.

Selain itu, Undang-Undang Pajak Karbon juga diharapkan dapat memberikan dorongan bagi sektor swasta untuk beralih ke sumber energi bersih dan ramah lingkungan. Dengan adanya insentif pajak, diharapkan akan mendorong investasi dan inovasi dalam pengembangan teknologi hijau serta mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Dengan demikian, langkah pemerintah dalam menerbitkan Undang-Undang Pajak Karbon sebagai langkah awal menuju target net zero emission pada tahun 2060 merupakan bukti nyata dari komitmen pemerintahan Jokowi dalam menjaga stabilitas lingkungan dan mempercepat pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perlindungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

 

Share:

Senin, 19 Februari 2024

Jalin Kerja Sama Baru, Pemerintah Indonesia Dan Singapura Menandatangani Surat Pernyataan Kehendak (Letter Of Intent) Tentang Kolaborasi Lintas Batas Dalam Penangkapan Dan Penyimpanan Karbon Dioksida (CCS)

Yogyakarta – Pemerintah Indonesia dan Singapura baru-baru ini menandatangani Surat Pernyataan Kehendak (Letter of Intent) yang menandai kerja sama baru dalam penangkapan dan penyimpanan karbon dioksida (CCS) lintas batas. Langkah ini menunjukkan komitmen kedua negara dalam menghadapi perubahan iklim dan menjaga lingkungan hidup.

Penandatanganan Letter of Intent ini dilakukan dalam upaya untuk mengatasi masalah emisi gas rumah kaca, yang merupakan kontributor utama terhadap perubahan iklim global. Dengan kerja sama dalam CCS, Indonesia dan Singapura berupaya untuk mengurangi emisi karbon dioksida dan menyimpannya secara aman dan efektif.

CCS merupakan salah satu teknologi yang dianggap efektif dalam mengurangi emisi karbon dioksida ke atmosfer. Dengan CCS, gas karbon dioksida yang dihasilkan dari berbagai kegiatan industri dapat ditangkap dan disimpan di bawah tanah atau di tempat-tempat penyimpanan lainnya, sehingga tidak mencemari udara dan menyebabkan pemanasan global.

Kerja sama antara Indonesia dan Singapura dalam CCS lintas batas merupakan langkah progresif dalam mengatasi tantangan lingkungan global. Dengan membagi pengetahuan, teknologi, dan sumber daya, kedua negara dapat mencapai hasil yang lebih optimal dalam mengurangi emisi karbon dan menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.

Selain itu, kerja sama ini juga mencerminkan hubungan yang erat antara Indonesia dan Singapura dalam berbagai bidang, termasuk lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan. Dengan bekerja sama, kedua negara dapat saling mendukung dan memperkuat upaya mereka dalam menjaga lingkungan hidup bagi generasi mendatang.

Komitmen pemerintah Indonesia dan Singapura dalam kerja sama CCS juga sejalan dengan visi Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memperkuat kerja sama regional dan global dalam mengatasi perubahan iklim. Dengan mengambil langkah konkrit dalam CCS, Indonesia dan Singapura menunjukkan kepada dunia bahwa mereka serius dalam menjaga lingkungan hidup dan memerangi perubahan iklim.

Diharapkan, kerja sama ini akan menjadi contoh bagi negara-negara lain di Asia Tenggara dan di seluruh dunia untuk meningkatkan upaya mereka dalam mengurangi emisi karbon dan menjaga keberlanjutan lingkungan hidup. Langkah-langkah progresif seperti ini adalah kunci untuk menciptakan dunia yang lebih hijau dan berkelanjutan bagi kita semua.

 

Share:

Sabtu, 04 Maret 2023

Waspada Jadi Kunci! Jokowi peringatkan semua orang untuk terus mewaspadai peningkatan bencana karena perubahan iklim

Yogyakarta – Perubahan iklim sedang mengintai seluruh dunia bahkan termasuk Indonesia juga tidak lepas dari dampak perubahan iklim. Perubahan iklim tentu bakal menjadi tantangan yang berat ke depan karena semuanya berubah dengan cepat.

Menanggapi hal tersebut Jokowi meminta kepada seluruh jajarannya untuk selalu mewaspadai terkait perubahan tersebut. Jokowi mengatakan bahwa perubahan iklim bisa berdampak pada meningkatnya frekuensi bencana alam yang terjadi di Indonesia.

Jokowi memaparkan selama 12 tahun sudah terjadi 3.544 bencana dari sebelumnya 1.945 bencana atau naik 81% pada kurun waktu yang sama yaitu 10 tahun. Bencana yang mengalami peningkatan yakni banjir, letusan gunung berapi, tanah longsor, gempa bumi serta bencana alam dan non alam lainnya.

Jokowi menekankan tahap prabencana sangat penting untuk memitigasi risiko serta meminimalisir korban dan kerugian akibat bencana. Tahapan pra bencana sendiri harusnya terdiri dari sistem peringatan dini, pendidikan terkait upaya penyelamatan diri dan pelatihan penyelamatan diri.

 

Share:

Selasa, 09 Agustus 2022

Jokowi Perintahkan BMKG Indentifikasi Risiko Iklim dan Dampaknya

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk mengindentifikasi risiko perubahan iklim dan dampaknya bagi masyarakat Indonesia.

"Saya memerintahkan BMKG untuk mengindentifikasi risiko iklim dan dampaknya secara menyeluruh, mengidentifikasi adaptasi apa saja yang bisa kita lakukan, meningkatkan kapasitas SDM dan peralatan untuk permodelan cuaca dan iklim yang menggabungkan informasi dari teknologi satelit," ujar Rakornas BMKG 2022 yang disiarkan YouTube InfoBMKG, Senin (8/8/2022).

Jokowi juga meminta BMKG untuk memperkuat layanan informasi bagi nelayan dan petani untuk mengantisipasi cuaca ekstrem.

"Memperkuat layanan informasi BMKG dan literasi terutama di wilayah pertanian dan perikanan sehingga petani dan nelayan bisa mengantisipasi terjadinya cuaca ekstrem. Perluasan cakupan forum sekolah lapang iklim dan sekolah lapang cuaca nelayan sehingga bisa memberi dampak signifikan," kata Jokowi.

Jokowi mengungkapkan, dampak dari perubahan iklim sangat serius. Dan pemerintah Indonesia perlu memiliki kebijakan dan sistem yang teruji dan tangguh untuk menjamin ketahanan pangan secara merata dan berkesinambungan serta sistem peringatan dini ketika bencana akan terjadi.

"BMKG punya peran sangat strategis untuk mewujudkannya khususnya terkait monitoring prediksi dan peringatan dini kondisi cuaca serta iklim ekstrim. Ini sangat membantu untuk perumusan strategi pencegahan dan penanggulangan," ujarnya.

 

Share:

Definition List

Unordered List

Support