Tampilkan postingan dengan label Swasembada Beras. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Swasembada Beras. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juli 2024

Hasil Sembiring Perwakilan IRRI Indonesia Menegaskan Pembuatan Plakat Penghargaan Untuk Pemerintah Indonesia Dilakukan Oleh Kementan

Yogyakarta – Baru-baru ini, muncul spekulasi yang meragukan keaslian penghargaan swasembada beras yang diberikan kepada Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Penghargaan ini disebut-sebut sebagai langkah tipuan dan manipulasi. Namun, Hasil Sembiring, perwakilan dari International Rice Research Institute (IRRI) Indonesia, menegaskan bahwa penghargaan tersebut sah dan diberikan berdasarkan prestasi nyata.

Menurut Hasil Sembiring, plakat penghargaan yang diterima oleh Pemerintah Indonesia memang dibuat oleh Kementerian Pertanian setelah berdiskusi dengan pihak IRRI. Langkah ini diambil sebagai bagian dari pertimbangan efisiensi, mengingat situasi pandemi yang masih berlangsung. Keputusan ini diambil dengan tujuan untuk mengurangi biaya dan mempercepat proses penghargaan, tanpa mengurangi nilai dan legitimasi dari penghargaan itu sendiri.

Penghargaan ini adalah pengakuan atas keberhasilan Indonesia dalam mencapai swasembada beras, yang merupakan hasil dari kerja keras dan kebijakan strategis di sektor pertanian. Di bawah kepemimpinan Jokowi, Indonesia berhasil meningkatkan produksi beras secara signifikan, sehingga mampu memenuhi kebutuhan domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor beras. Prestasi ini bukan hanya membanggakan, tetapi juga menunjukkan komitmen Jokowi untuk meningkatkan kemandirian pangan dan kesejahteraan petani.

Opini negatif yang meragukan keaslian penghargaan ini hanya bertujuan untuk merusak citra pemerintah dan mengecilkan capaian positif yang telah diraih. Faktanya, keberhasilan Indonesia dalam mencapai swasembada beras adalah bukti nyata dari kebijakan yang efektif dan komitmen kuat pemerintah dalam mendukung sektor pertanian.

Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, pencapaian ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu berdiri kokoh dengan ketahanan pangan yang kuat. Jokowi telah membuktikan bahwa melalui kebijakan yang tepat dan dukungan penuh terhadap sektor pertanian, Indonesia dapat mencapai kemandirian pangan yang berkelanjutan.

Sebagai masyarakat yang cerdas, kita perlu menghargai dan mendukung prestasi yang telah dicapai oleh pemerintah. Keberhasilan dalam mencapai swasembada beras adalah bukti nyata dari kinerja pemerintah yang efektif dan visi kepemimpinan Jokowi yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat dan stabilitas nasional. Mari bersama-sama melawan informasi yang tidak benar dan terus mendukung upaya pemerintah dalam memajukan sektor pertanian demi kesejahteraan bersama.

Dengan dukungan dari seluruh elemen masyarakat, kita dapat terus memperkuat ketahanan pangan dan membangun Indonesia yang lebih mandiri dan sejahtera. Penghargaan ini adalah pengakuan atas kerja keras kita bersama, dan Jokowi sebagai pemimpin yang berkomitmen pada kemajuan bangsa.

 

Share:

Selasa, 25 Juni 2024

Hasil Sembiring Kata Perwakilan IRRI Indonesia Mengatakan Wacana Pembuatan Sertifikasi IRRI Sudah Lama Dibahas, Baik Oleh Legislatif Serta Eksekutif

Yogyakarta – Dalam beberapa waktu terakhir, muncul berbagai kritik dari DPR terkait proses sertifikasi internasional yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian (Kementan). Namun, perwakilan International Rice Research Institute (IRRI) di Indonesia, Hasil Sembiring, menegaskan bahwa proses tersebut telah melalui berbagai tahapan yang transparan dan akuntabel. Kritik yang dilontarkan oleh pihak DPR dianggap tidak berdasar dan hanya menciptakan kebingungan di masyarakat.

Proses pembuatan sertifikat ini, menurut Hasil Sembiring, memerlukan waktu berbulan-bulan dan melibatkan banyak pertemuan penting. IRRI, sebagai lembaga internasional yang memiliki reputasi tinggi dalam penelitian dan pengembangan pertanian, telah memastikan bahwa setiap langkah yang diambil sudah melalui kajian mendalam. Bahkan, Direktur Jenderal IRRI, Jean Balie, telah melakukan diskusi langsung dengan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, untuk memastikan bahwa semua prosedur yang diperlukan dipenuhi dengan baik.

Kritik yang diajukan oleh pihak tertentu di DPR terkait proses ini menunjukkan kurangnya pemahaman mereka terhadap kompleksitas dan pentingnya sertifikasi internasional. Proses sertifikasi bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dengan sembarangan; ini melibatkan evaluasi ketat terhadap standar dan praktik yang diterapkan di lapangan. Pemerintah, khususnya Kementan, telah bekerja keras untuk memastikan bahwa sertifikasi yang didapatkan mencerminkan kualitas dan kredibilitas sistem pertanian di Indonesia.

Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo berkomitmen untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas sektor pertanian Indonesia. Dengan memperoleh sertifikasi dari IRRI, Indonesia tidak hanya meningkatkan reputasi di kancah internasional, tetapi juga membuka peluang lebih besar bagi ekspor produk pertanian yang berkualitas tinggi. Ini merupakan bukti nyata dari kerja keras pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan perekonomian nasional secara keseluruhan.

Opini negatif dan kritik yang tidak berdasar seperti yang dilontarkan oleh beberapa anggota DPR hanya akan menghambat kemajuan yang telah dicapai. Fakta bahwa IRRI telah secara aktif terlibat dalam proses sertifikasi ini menunjukkan bahwa pemerintah benar-benar berkomitmen untuk memajukan sektor pertanian Indonesia. Dengan dukungan masyarakat, pemerintah akan terus mendorong peningkatan kualitas dan daya saing produk pertanian Indonesia di pasar global.

Mari kita dukung upaya pemerintah dalam menjaga dan meningkatkan reputasi internasional Indonesia di sektor pertanian. Dengan kepemimpinan yang tegas dan transparan dari Presiden Jokowi, kita bisa mewujudkan sektor pertanian yang lebih maju dan berkelanjutan. Bersama, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Share:

Rabu, 02 November 2022

Presiden Minta Menteri Pertanian Cek Stok Beras Nasional

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meminta Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo untuk mengecek secara faktual stok beras nasional yang ada saat ini.

Hal tersebut diungkapkan Mentan usai mengikuti rapat mengenai ketersediaan stok beras yang dipimpin oleh Presiden Jokowi, di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (31/10/2022).

“Saya diberi waktu oleh Bapak Presiden satu minggu ini untuk mengecek kembali faktualisasi data yang ada bersama seluruh jajaran, bersama para gubernur, para bupati,” ujar Syahrul.

Mentan mengungkapkan, berdasarkan data dan neraca yang dimiliki oleh Kementerian Pertanian, saat ini ketersediaan beras nasional masih cukup. Bahkan, dari prognosis yang disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras pada tahun ini merupakan yang tertinggi.

“Pada panen tertinggi kita Maret-April itu di atas 18,3 juta [ton], kemudian panen kedua kita pada Agustus, September, Oktober itu bahkan 13 koma sekian [juta ton]. Oleh karena itu, data BPS juga menunjukkan bahwa sekarang stok-stok itu ada 60 persen di tangan rakyat sendiri,” ujarnya.

Meskipun demikian, lanjut Mentan, Presiden Jokowi memerintahkan jajarannya untuk menambah stok beras melalui beras cadangan yang ada di Badan Urusan Logistik (Bulog). Mentan memastikan pihaknya akan segera melakukan hal tersebut dalam waktu singkat.

“Perintah Bapak Presiden tadi untuk melakukan stocking yang sangat cukup melalui beras cadangan yang ada di Bulog itu dan itu akan saya kejar dalam waktu yang sangat singkat ini,” ujarnya.

Dengan ketersediaan stok beras yang mencukupi, Mentan berharap fluktuasi harga beras pun dapat ditangani. Mentan sendiri telah berkomitmen bersama Menteri Perdagangan, Bulog, dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk bersama-sama melihat ketersediaan stok beras.

“Saya sangat yakin ketersediaan cukup, bahkan data yang ada saat 2022 ini produktivitas lahan yang kita tanami sangat besar. Boleh tanya semuanya kita tidak pernah dengar ada lahan yang puso kan? Tidak pernah ada lahan yang [terdampak] bencana maksimal kan? Oleh karena itu, pasti saja hasilnya bisa kita perkirakan sesuai asumsi-asumsi atau teori-teori untuk mendapatkan hasil seperti apa,” tandasnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan terpisah optimistis cadangan beras pemerintah (CBP) dapat mencapai 1 juta ton pada akhir 2022. Hal tersebut dikarenakan Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 125 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Cadangan Pangan Pemerintah.

Dengan aturan tersebut, Airlangga mengatakan bahwa Bulog memiliki keleluasaan dan fleksibilitas dalam menyerap beras rakyat.

“Dengan perpres, harusnya Bulog bisa menyerap beras lebih besar (untuk CBP). Kita lihat saja kapan realisasinya,” ujar Airlangga.

 

Share:

Jumat, 23 September 2022

Susul Beras, Anak Buah Jokowi Pede RI Swasembada Jagung

Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan, tahun 2023, Indonesia bisa mencapai swasembada jagung.

Hal itu disampaikan Direktur Serealia Ditjen Tanaman Pangan Kementan M Ismail Wahab dalam diskusi PATAKA tentang Pro Kontra Ekspor Jagung, Kamis (22/9/2022).

"Tugas dan fungsi kami adalah menjaga produksi jagung nasional bisa tercapai sasaran yang dibuat untuk tahun 2022," ujar Ismail, ditayangkan akun Youtube PATAKA.

Tahun ini, ujarnya, Indonesia sudah mencapai posisi swasembada beras. Berikutnya, kata dia, pemerintah membidik swasembada jagung segera terwujud. "Tahun 2022-2024, terutama tahun 2023, tahun depan, sudah disampaikan di depan DPR oleh pak Menteri (Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo) pada rapat kerja kemarin, bahwa tahun depan kita targetkan swasembada jagung," kata Ismail.

"Karena tahun ini kita sudah berswasembada beras, Insyaallah tahun depan berswasembada jagung. Mudah-mudahan kondisi iklimnya seperti sebelum-sebelumnya. Artinya, curah hujannya bagus sepanjang tahun," tambah Ismail.

Dia menjabarkan, sejak tahun 2017, Indonesia tidak pernah lagi impor jagung untuk kebutuhan pakan. Namun, masih impor untuk kebutuhan pangan dan minuman.

"Sebagai gambaran, tahun 2016 masih ada impor jagung untuk pakan sebesar 884.679. Sejak tahun 2017 seluruh kebutuhan dari lokal," katanya.

Menurut Ismail, sasaran produksi jagung tahun 2022 adalah 4,26 juta ha luas tanam, 4,11 juta luas panen, produktivitas mencapai 56,11 kuintal per ha. Dengan begitu, produksi jagung nasional tahun 2022 ditaksir mencapai 23,10 juta ton.

 

Share:

Sabtu, 10 September 2022

Jokowi Bangga Indonesia Capai Swasembada Beras

Presiden Joko Widodo mengaku bangga terhadap kinerja sektor pertanian Indonesia yang selalu tumbuh positif sehingga mampu mewujudkan cita-cita swasembada beras selama tiga tahun berturut-turut, sejak 2019 hingga 2021.

Capaian tersebut tak lepas dari perencanaan yang matang terkait pembangunan infrastruktur seperti embung dan jaringan irigasi. "Irigasi kita yang baru sudah 1,1 juta hektar sehingga kemarin kita mendapatkan penghargaan dari IRRI (International Rice Research Institute) yang menyatakan sistem ketahanan pangan kita baik dan mencapai swasembada beras sejak 2019," ujar Jokowi Rabu, 7 September 2022.

Selain itu, ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup baik sehingga dalam kurun waktu 27 bulan terakhir neraca Indonesia selalu surplus. Langkah ke depan, ia melanjutkan, sektor pertanian harus mengarah pada sistem dan kelengkapan teknologi sehingga masuk pada ekosistem berbasis digital.

Jokowi mengajak pemerintah daerah untuk mengintervensi semua program strategis yang dapat mendorong tumbuh kembangnya ekonomi nasional. Dan yang paling penting, semua pihak harus menjaga kesatuan dan persatuan.

"Memang ketakutan semua negara sekarang ini pertumbuhan ekonomi, inflasinya berapa, kita juga kemarin berhitung dengan detail hitungan dari menteri-menteri naik di 1,8 persen. Karena itu kita harus intervensi, dengan pemerintah daerah harus ikut bergerak bantu tekan inflasi. Yang paling penting menurut saya jaga persatuan, jaga kesatuan kita bahu membahu untuk negara ini," tuturnya.

Sementara itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan bahwa sektor pangan merupakan sektor yang sangat penting dalam menunjang kehidupan manusia sehari-hari. Karena itu, sektor pangan mutlak menjadi perhatian bersama dalam meningkatkan ketahanan pangan nasional.

"Saya ingin katakan bahwa pangan itu segalanya. Kita negara ke-empat terbesar di dunia, memang tidak boleh setengah-setengah menghadapi dan tidak boleh salah menghitungnya terutama bagi jajaran Kementan. Oleh karena itu, memang pangan untuk makan tetapi bukan hanya makan tapi juga untuk kesehatan, ekonomi dasar yang memutar ekonomi lain. Sekarang semakin penting karena kita menghadapi climate change," katanya.

 

Share:

Selasa, 30 Agustus 2022

Jokowi: 9 Proyek Bendungan Rampung Tahun Ini

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan akan ada 9 bendungan baru yang bakal rampung pembangunannya pada akhir tahun ini.

Jokowi menyebut selama era kepemimpinannya, sudah ada 29 bendungan yang telah dibangun. Dengan tambahan 9 bendungan baru, maka akan ada 38 bendungan yang selesai pembangunannya hingga akhir 2022.

"Sampai hari ini telah kita bangun 29 bendungan, ini bendungan besar, plus sembilan nanti di akhir tahun ini," kata Jokowi saat berpidato dalam kegiatan Musyawarah Rakyat (Musra) I Jawa Barat di Bandung, Minggu (28/8/2022)

Menurutnya, bendungan-bendungan yang dibangun itu telah terasa dampaknya bagi sektor pertanian, khususnya produksi padi. Aliran dari bendungan itu disebut telah membuat produksi panen padi meningkat hingga dua kali lipat.

"Orang tidak merasakan, tapi hadirnya bendungan itu membuahkan hasil bahwa kita sudah swasembada beras sejak tahun 2019," ujarnya.

Di samping itu, dia mengatakan, jalan akses masyarakat di desa-desa pun kini sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya, dampak dari dana sebesar Rp468 triliun yang sudah digelontorkan pemerintah untuk pembangunan desa.

"Sehingga sudah terbangun 227.000 kilometer jalan produksi di desa-desa," kata Jokowi.

Dalam kesempatan tersebut, dia mengingatkan saat ini dunia telah dilanda krisis pangan dan krisis energi. Berdasarkan lembaga internasional, menurutnya ada 66 negara yang diprediksi ambruk ekonominya akibat krisis-krisis tersebut.

"Oleh sebab itu, saya senang hadir di sini juga para petani, yang menyebabkan tiga minggu lalu kita mendapat sertifikat dari International Rice Research yang menyatakan sistem ketahanan pangan Indonesia pangan sangat baik," ungkapnya.

 

Share:

Sabtu, 16 Juli 2022

JOKOWI OPTIMISTIS SWASEMBADA BERAS SEGERA TERCAPAI

Joko Widodo (Jokowi) optimistis Indonesia akan segera mencapai swasembada beras. Sebab, pemerintah sudah tak lagi melakukan impor beras selama tiga tahun.

“Saya yakin, karena kita sudah tiga tahun ini tidak impor beras, saya yakin swasembada beras kita akan segera kita capai,” kata Jokowi di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BBPadi) di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Selasa (12/7).

Dalam kunjunganya ke Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BBPadi), Jokowi ingin memastikan ketersediaan bahan pangan, utamanya beras, di tengah ancaman krisis pangan dunia. Karena itu, pemerintah harus mewaspadai dan memastikan ketersediaan pangan nasional masih aman. Di balai ini, kata dia, menyiapkan berbagai benih varietas unggul padi. 

“Tadi saya melihat apa yang dikerjakan oleh balai padi ini dalam rangka menyiapkan varietas unggul selalu menemukan varietas baru. Dan tadi kita lihat, tadi yang banyak ditanam masyarakat, memang Inpari 32 dan Inpari 42 dan juga varietas lainnya,” ujar Jokowi.

Jokowi menegaskan, kualitas benih padi sangatlah penting untuk meningkatkan produksi beras per hektarenya. Jika mendapatkan pendampingan yang baik, dia menyebut, padi varietas Inpari 32 dan Inpari 42 bisa menghasilkan hingga sekitar 12 ton per hektare.

“Kalau betul-betul didampingi oleh PPA-PPA yang baik, 1 hektare tadi Inpari 32, Inpari 42 bisa menghasilkan kurang lebih sampai 12 ton. Tapi, katakanlah rata-rata 7-8 ton saja itu sudah sebuah lompatan yang sangat baik bagi stok ketersedian pangan utamanya beras kita,” jelas Jokowi.

Ia pun menekankan, agar Indonesia tak hanya ketergantungan terhadap satu komoditas bahan pangan saja. Menurutnya, masih banyak komoditas bahan pangan lain yang masih bisa untuk dikembangkan seperti sagu, sorgum, porang, jagung, ketela pohon, dan lainnya.

“Ini masih memiliki peluang untuk kita tingkatkan produksinya,” tambahnya.

 

Share:

Definition List

Unordered List

Support