Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Indonesia Meroket. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Indonesia Meroket. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Oktober 2022

Indikator Ekonomi Baik, Presiden: Negara Kita Harus Tetap Optimistis

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengajak semua pihak untuk tetap optimistis dalam menghadapi ketidakpastian dan krisis global karena sejumlah indikator perekonomian berada pada posisi yang baik.

Hal tersebut disampaikan Presiden Jokowi saat membuka Trade Expo Indonesia (TEI) ke-37 yang diselenggarakan di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Bumi Serpong Damai City (BSD City), Tangerang, Banten, Rabu (19/10/2022).

“Kita semuanya harus tetap optimis meskipun lembaga-lembaga internasional menyampaikan bahwa tahun ini sulit, tahun depan akan gelap. Silakan negara-negara lain, negara kita harus tetap optimistis. Tetapi memang harus waspada, harus hati-hati karena badainya itu sulit dihitung, sulit diprediksi, sulit dikalkulasi akan menyebar sampai ke mana, imbasnya ke kita seperti apa,” ujar Presiden.

Di tengah resesi yang mengancam sejumlah negara, perekonomian Indonesia pada kuartal II-2022 masih dapat tumbuh sebesar 5,44 persen.

“Kita patut bersyukur bahwa di tengah-tengah krisis, di tengah-tengah resesi, Indonesia di kuartal kedua masih tumbuh 5,44 persen. Ini wajib kita syukuri. Kita termasuk negara yang memiliki growth/pertumbuhan ekonomi yang paling tinggi di antara negara-negara G20 maupun negara-negara lainnya,” ujarnya.

Dari segi inflasi, pada bulan Agustus inflasi di tanah air masih terkendali pada angka 4,6 persen sementara kuartal II 4,9 persen. Tingkat inflasi Indonesia juga relatif lebih baik dari sejumlah negara di dunia.

“Karena kenaikan BBM kemarin inflasi naik sedikit 5,9 persen, masih bisa kita kendalikan,” ujarnya.

Sementara dari sisi neraca perdagangan, Indonesia berhasil mencatatkan surplus selama kurun waktu 29 bulan.

“Tadi sudah disampaikan oleh Pak Zul, Menteri Perdagangan, dari Januari-September surplus kita mencapai 39,8 miliar Dolar AS. Ini jumlah yang tidak sedikit,” tuturnya.

Rasa optimisme terhadap perekonomian Indonesia juga ditunjukkan oleh lembaga internasional. Presiden Jokowi pun mengutip ucapan Managing Director Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah titik terang di tengah-tengah kesuraman ekonomi dunia.

“Ini yang ngomong bukan kita lho ya, Kristalina, Managing Director-nya IMF, titik terang di antara kesuraman ekonomi dunia. Kan bagus kalau banyak yang menyampaikan seperti itu, sehingga trust/kepercayaan global terhadap kita akan semakin baik,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Presiden juga menyampaikan keyakinannya bahwa perekonomian Indonesia mampu tumbuh di atas lima persen.

“Saya masih meyakini di kuartal ketiga ini kita juga masih tumbuh di atas 5 [persen] atau di atas 5,4 [persen]. Karena angka-angka yang kita lihat, neraca dagang kita bulan yang lalu masih surplus 5,7 persen, kredit tumbuh 10,7 persen, indeks kepercayaan konsumen masih di angka 124,7 persen. Semuanya masih pada kondisi yang baik-baik. Tetapi sekali lagi, dalam kondisi yang sangat-sangat sulit seperti ini kerja keras adalah kuncinya,” pungkasnya.

 

Share:

Rabu, 12 Oktober 2022

Jokowi: Ekonomi Indonesia Masih yang Terbaik Dunia

Situasi dunia kini kacau balau. Banyak negara kini sudah masuk ke jurang krisis dan akan bertambah ke depannya. Indonesia saat ini masih berada pada posisi terbaik dunia.

Demikianlah disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Selasa (11/10/2022)

"Dengan ketidakpastian yang saya sampaikan, kita harus tetap optimis. Harus optimisme itu tapi harus tetap hati-hati dan waspada. Karena angka-angka yang kita miliki, Indonesia pertumbuhan ekonomi di kuartal II kita termasuk yang terbaik di dunia, 5,44%," paparnya.

Inflasi juga masih terkendali. Jokowi memaparkan inflasi nasional masih berada di level 5,9% per akhir September 2022. Negara lain sudah jauh ke atas 10% dan bahkan mencapai 100%.

"Inflasi juga masih terkendali setelah kenaikan BBM, kita masih di angka di bawah 6%, yaitu 5,9%. Ini tetap kita syukuri, karena dibandingkan dengan negara-negara lain, sekarang ini di Argentina sudah 83,5%," terangnya

Jokowi menuturkan hampir semua negara kini kewalahan dan bahkan tidak ada yang mampu memprediksi nasib ke depannya.

"Saat ini sedang terjadi. Dari yang dulunya relatif mudah diprediksi, mudah dihitung, mudah dikalkulasi menjadi dunia yang sulit dihitung, diprediksi, kalkulasi. Penuh ketidakpastian tinggi dan volatilitas tinggi," ungkapnya.

"Kalau dulu semua negara ini ngejarnya bunga serendah mungkin, inflasi serendah mungkin. Dan sekarang semuanya berubah," jelasnya.

Kondisi tersebut bermula dari pandemi covid-19 yang belum sepenuhnya berakhir. Diperparah oleh perang Rusia dan Ukraina sebagai biang kerok krisis pangan dan energi, menimbulkan lonjakan inflasi di mana-mana.

Situasi semakin rumit, tatkala negara maju mengubah arah kebijakan moneter. Seperti Amerika Serikat (AS) yang dengan agresif menaikkan suku bunga acuan dan menimbulkan gejolak besar di pasar keuangan. Negara dengan kondisi fiskal yang rapuh, terpaksa jatuh ke jurang krisis keuangan.

"Plus perubahan iklim sehingga sekarang bisa kita lihat bencana alam makin sering terjadi," pungkasnya.

 

Share:

Sabtu, 01 Oktober 2022

Presiden Jokowi: Pemulihan Ekonomi Indonesia Relatif Masih Kuat

Di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menilai bahwa pemulihan ekonomi Indonesia relatif masih kuat. Berbagai indikator seperti realisasi pendapatan negara yang didorong oleh tumbuhnya pendapatan pajak, angka optimisme konsumen, hingga indeks manufaktur menunjukkan angka yang menggembirakan.

Hal tersebut disampaikan oleh Presiden Jokowi saat menyampaikan sambutan pada acara United Overseas Bank (UOB) Economic Outlook 2023 yang digelar di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, pada Kamis  (29/09/2022).

“Kita lihat realisasi pendapatan negara mencapai Rp1.764 (triliun), ini tumbuh 49 persen year on year (yoy). Kemudian ini yang para pembayar pajak saya ingin mengucapkan terima kasih karena penerimaan pajak sampai sekarang mencapai Rp1.171 triliun, tumbuh 58 persen. Artinya, pembayar pajak masih ada dan justru tumbuh 58 persen,” ujar Presiden.

Pendapatan negara juga didorong oleh penerimaan bea cukai sebesar Rp206 triliun, tumbuh 30,5 persen. Selain itu, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga tumbuh 38,9 persen menjadi sebesar Rp386 triliun.

“Artinya, masyarakat masih konsisten dan memiliki kemampuan dalam hal tadi yang saya sampaikan,” imbuhnya.

Kepala Negara juga memandang bahwa optimisme konsumen masih berada pada angka yang tinggi. Hal itu bisa dilihat dari Indeks Kepercayaan Konsumen yang mencapai 124,7, naik dari angka pada bulan Juli yaitu 123.

“Kemudian juga ini yang berkaitan dengan perbankan, kredit tumbuh 10,7 persen. Ini juga menurut saya cukup tinggi. Neraca dagang kita juga surplus 28 bulan berturut-turut yang pada bulan kemarin neraca kita surplus 5,7 miliar dolar AS. Ini gede banget loh angka ini surplusnya,” ungkapnya.

Indikator lainnya yaitu Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang terus menguat dan berada pada angka 51,7 per Agustus 2022, di atas rata-rata global. Dari berbagai indikator tersebut, Presiden Jokowi pun memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III tahun 2022 bisa berada di atas pertumbuhan kuartal II yang mencapai 5,44 persen.

“Saya hanya ingin menumbuhkan optimisme, jangan pesimistis. Memang yang kita hadapi ini bukan barang gampang, bukan barang yang mudah, tetapi kita tetap harus optimistis. Kuartal II 5,44 persen, kuartal III… perkiraan saya ekonomi akan tumbuh di kuartal III ini 5,4 sampai 6 persen,” jelasnya.

 

Share:

Jumat, 30 September 2022

Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara di Atas Nasional, Presiden: Harus Dijaga Terus

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meminta Maluku Utara untuk terus menjaga pertumbuhan ekonominya. Pertemuan daerah ini tercatat berada di atas pertumbuhan nasional yang sebesar 5,2 persen.

“Saya cek Ternate termasuk sudah di atas 7 [persen], nasional hanya 5,2 [persen]. Ini yang harus dijaga terus, kondusifitas setiap kabupaten, kota, provinsi. Karena di sini mungkin, saya belum membandingkan dengan provinsi lain, menjadi salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Maluku Utara,” ujar Presiden dalam keterangan persnya di Pasar Rakyat Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, Rabu (28/09/2022).

Presiden meyakini, keberadaan industri pertambangan di Maluku Utara juga akan menunjang pertumbuhan di wilayah tersebut, terlebih dengan adanya hilirisasi industri.

“Provinsi Maluku Utara dengan adanya industri tambang di sini yang sudah masuk dari mentah ke smelter, pertumbuhan ekonomi pasti akan di atas rata-rata nasional, termasuk Ternate,” ujarnya.

Berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI), pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada triwulan II-2022 mencapai 27,74 persen (yoy). Maluku Utara menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia untuk periode tersebut, diikuti Papua dan Sulawesi Tengah.

Presiden pun meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Halmahera Barat berada di atas angka pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut Presiden Jokowi, hal tersebut bisa dilihat dari geliat ekonomi masyarakat di pasar-pasar tradisional seperti di Pasar Rakyat Jailolo yang ia kunjungi.

“Halmahera Barat saya belum cek ke BI pertumbuhan ekonominya bagaimana, tapi kalau melihat daerah pasar seperti ini ya saya kira mirip-mirip, sama, rata-rata, [pertumbuhan] pasti di atas nasional,” ujarnya.

Presiden menambahkan, selain mengecek ekonomi masyarakat, kunjungan kerjanya kali ini juga untuk melihat secara langsung kondisi infrastruktur di Maluku Utara tersebut, termasuk belum adanya jalan nasional di wilayah ini. Menurutnya, masih banyak daerah terpencil yang membutuhkan infrastruktur serupa.

“Negara ini dari Sabang sampai Merauke, banyak sekali 514 kabupaten/kota yang semuanya ada pulau terpencil di sebelah barat, misalnya di Nias, Simeulue, Mentawai dan juga yang ada di Bangka Belitung. Di sebelah timur juga, kemarin kita baru ke Maluku Barat Daya. Itu semuanya butuh. Kenapa saya turun ke bawah? Untuk memastikan hal-hal yang tadi sudah Anda tanyakan, seperti apa lapangannya, seperti apa kondisi ekonominya,” pungkasnya.

 

Share:

Kamis, 01 September 2022

Jokowi Ungkap Mesin Tersembunyi yang Bikin Ekonomi RI Tokcer

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan bahwa sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi kunci penggerak ekonomi Indonesia. Ini dibuktikan dengan 61% PDB ekonomi Indonesia yang digerakkan oleh UMKM, serta hampir 97% urusan serapan ketenagakerjaan dikontribusikan oleh sektor UMKM.

Hal ini diutarakan Jokowi dalam acara Pemberian NIB ke Pelaku UMK di Papua pada Rabu (31/8/2022). Meski saat ini UMKM di Indonesia berjumlah kurang lebih sebanyak 64 juta, sayangnya pengusaha yang telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan terdaftar di Online Single Submission (OSS) baru 1,8 juta.

Padahal, Jokowi mengatakan bahwa NIB memiliki banyak manfaat yang menguntungkan bagi para pengusaha kecil.

"Apa gunanya setelah dapat NIB? Bapak Ibu menjadi pengusaha formal, karena telah memiliki izin nomor induk berusaha. Kalau sudah pegang (NIB) untuk apa? Bapak Ibu bisa akses permodalan ke bank, minta yang namanya KUR," terang Jokowi.

Selain itu, KUR yang bunganya saat ini 3% juga sudah disubsidi pemerintah. Menurut Jokowi, kebijakan ini dilakukan agar usaha mikro di Indonesia bisa berkembamg dengan cepat.

Jayapura menjadi kota pertama di luar pulau Jawa yang dihadiri oleh Jokowi bersama dengan 2700 pelaku UMK perseorangan dalam pemberian NIB. Dalam kunjungannya kali ini, Jokowi mengaku senang dan kaget melihat beberapa produk buatan UMKM di Papua berkembang dengan baik, mulai dari pengemasan, hingga nama produk.

Jokowi juga menyarankan para pelaku UMKM untuk memasukkan produk mereka ke platform digital, sehingga lingkup penjualannya tidak hanya di Papua, namun bisa melompat ke luar Provinsi Papua, bahkan luar negeri.

"Karena saya lihat tadi peluang untuk itu besar sekali, karena kemasannya sudah baik, branding baik, namanya juga keren bagus-bagus, jangan jual disini aja, tapi platform digital juga," jelasnya.

"Jualan lewat Facebook boleh, Instagram boleh, tapi kalau bisa masuk ke platform e-commerce. Saya kira produk-produk tadi akan cepat penjualannya dan sangat laku," pungkas Jokowi.

 

Share:

Rabu, 17 Agustus 2022

Ekonomi Indonesia Meroket, Jokowi: Tetap Hati-hati!

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan fundamental ekonomi Indonesia sangat baik di tengah kondisi dunia yang bergejolak. Meski demikian, menurutnya Indonesia tetap harus waspada dan hati-hati.

"Capaian tersebut patut kita syukuri. Fundamental ekonomi Indonesia tetap sangat baik di tengah perekonomian dunia yang sedang bergolak," kata Jokowi dalam Sidang Tahunan MPR/DPR, Selasa (16/8/2022)

"Di satu sisi, kita memang harus tetap waspada dan harus tetap hati- hati. Namun di sisi lain, agenda-agenda besar bangsa harus kita lanjutkan untuk meraih Indonesia Maju," jelasnya.

Beberapa catatan yang membuktikan fundamental ekonomi Indonesia baik antara lain Inflasi juga berhasil dikendalikan di kisaran 4,9%. Angka ini jauh di bawah rata-rata inflasi ASEAN yang berada di sekitar 7%. Jauh di bawah inflasi negara- negara maju yang berada di sekitar 9%.

Sampai pertengahan tahun 2022 ini, APBN juga surplus Rp106 triliun. "Oleh karena itu, Pemerintah mampu memberikan subsidi BBM, LPG, dan Listrik, sebesar Rp502 triliun di tahun 2022 ini, agar harga BBM di masyarakat tidak melambung tinggi," terang Jokowi.

Selain itu, ekonomi berhasil tumbuh positif di 5,44% pada kuartal II tahun 2022. "Neraca perdagangan juga surplus selama 27 bulan berturut-turut, dan di semester I tahun 2022 ini surplusnya sekitar Rp364 triliun," pungkasnya.

 

Share:

Definition List

Unordered List

Support