Tampilkan postingan dengan label G7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label G7. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juli 2022

INA dan SRF China Jalin Kerja Sama Investasi di Indonesia

Dana investasi China mengatakan akan menanamkan US$3 miliar dalam proyek-proyek “konektivitas ekonomi” antara Indonesia dan China, beberapa hari sebelum kunjungan Menteri Luar Negeri China Wang Yi ke Jakarta untuk pembicaraan “tingkat tinggi”, termasuk tentang Belt and Road Initiative (BRI).

Pengumuman itu muncul setelah negara-negara G7 mengatakan pekan lalu bahwa mereka berencana untuk mengumpulkan dana $600 miliar selama lima tahun untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur di negara-negara berkembang untuk melawan BRI, program infrastruktur Beijing senilai $1 triliun-plus untuk membangun jaringan kereta api, pelabuhan dan jembatan di 70 negara.

Lembaga Pengelola Investasi Indonesia (Indonesia Investment Authority/INA) meneken kerangka kerja sama investasi dengan Silk Road Fund (SRF) milik Pemerintah China pada Senin, kata kedua belah pihak dalam pernyataan mereka.

"Kami yakin investasi di Indonesia dan kawasan sekitarnya memiliki potensi tinggi, apalagi jika dilakukan bersama-sama dengan INA. SRF bermaksud berinvestasi hingga 20 miliar yuan atau jumlah setara di bawah kesepakatan ini," ucap Wang.

Dalam kerangka kerja sama yang ditandatangani pada Senin (4/7) tersebut, kedua pihak menyepakati prinsip dan syarat umum saat melakukan dan menyaring investasi bersama, kata Presiden SRF, Yanzhi Wang, dalam keterangan tertulis.

SRF direncanakan bakal menanam modal hingga 20 miliar yuan (sekitar US$2,9 miliar) atau setara Rp44,5 triliun di Indonesia.

Kerangka kerja sama juga akan mencakup investasi di sektor yang terbuka untuk investasi asing, khususnya yang dapat mempromosikan pengembangan masyarakat dan konektivitas antara Indonesia dan China, jelas Wang.

SRF merupakan dana pembangunan dan investasi jangka menengah dan panjang yang dibentuk Pemerintah China sebagai tindak lanjut BRI yang digagas Beijing.

Ketua Dewan Direktur INA Ridha Wirakusumah mengatakan bahwa pihaknya berkomitmen mempromosikan hubungan ekonomi bilateral Indonesia-China lewat penandatangan kerangka kerjasama ini.

“Sebagai bagian dari perjanjian yang ditandatangani, INA akan berinvestasi bersama SRF, serta membuka kemungkinan mengundang investor lain,” kata Ridha lewat keterangan tertulis.

Dalam pernyataan usai pelantikan direksi INA pada Februari 2021, Jokowi mengatakan bahwa keberadaan INA diharapkan dapat menjadi penarik investor untuk menanam modal demi ketercukupan pembiayaan program pembangunan nasional, terutama infrastruktur.

Merujuk situs resminya, INA yang dibentuk pada Februari 2021 berfokus pada beberapa sektor utama investasi, meliputi infrastruktur, rantai pasok dan logistik, infrastruktur digital dan teknologi, investasi energi terbarukan, jasa kesehatan dan keuangan, dan pariwisata.

Laporan keuangan 2021 INA menyatakan, total dana yang dikelola per 2021 mencapai Rp79,22 triliun. Angka itu masih lebih kecil dari target yang dipatok Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 2021 yakni mencapai Rp300 triliun.

Walhasil, ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menanggapi positif penandatanganan kerangka kerja sama antara INA dan SRF.

Terlebih INA selama ini belum berkontribusi besar dalam pembiayaan proyek-proyek infrastruktur pemerintah, bahkan pemerintah masih menjadi sumber utama permodalan INA.

"Dalam konteks menghimpun dana, kerja sama INA dan SRF ini menjadi inisiasi bagus... Dalam konteks Indonesia, tentu bagaimana mendorong kepentingan strategis dalam pembiayaan proyek-proyek nasional," kata Rendy kepada BenarNews.

Pemerintah menyuntikkan modal awal INA sebesar Rp75 triliun yang berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara 2020 dan 2021 dan pengalihan saham.

Kendati masih tergolong kecil, Global Sovereign Wealth Fund yang mendata aktivitas investasi lebih dari 400 lembaga pengelola investasi di dunia menyatakan pada Mei lalu bahwa INA menempati urutan pertama perihal jumlah investasi terbesar sepanjang April 2022, mencapai US$2,7 miliar atau sekitar Rp 39,19 triliun.

Keseluruhan investasi pada bulan itu adalah US$11,8 miliar atau sekitar Rp 171,31 triliun.

Uni Emirate Arab sudah berkomitmen untuk menginvestasikan US$10 miliar di INA, sementara Arab Saudi juga sudah menyatakan minatnya, kata pejabat Indonesia.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Luar Negeri China Wang Yi akan melakukan kunjungan ke Asia Tenggara termasuk pertemuan bilateral tingkat tinggi dengan pejabat Indonesia setelah pertemuan menteri luar negeri G20 di Bali pada 8 Juli.

Wang Yi akan melakukan Pertemuan Kedua Mekanisme Kerja Sama Dialog Tingkat Tinggi China-Indonesia dengan Menteri Koordinator Bidang Investasi dan Maritim, Luhut Pandjaitan pada 9 Juli, kata Kementerian Luar Negeri di Jakarta.

Lawatan Wang Yi ke sejumlah negara Asia Tenggara termasuk Myanmar, Indonesia, Filipina, Thailand dan Malaysia menunjukkan pentingnya kawasan ini bagi China, terutama untuk memastikan kerja sama BRI berjalan sesuai rencana, kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian.

“China berharap bisa memperdalam komunikasi strategis dengan empat negara Asia Tenggara, bekerja untuk kerja sama Belt and Road, membangun rumah yang damai, aman dan tenteram, sejahtera, indah dan bersahabat dan memulai Kemitraan Strategis Komprehensif China-ASEAN dengan awal yang baik,” ujar Zhao Lijian seperti dimuat dalam situs Kementerian Luar Negeri China.

Muhadi Sugiono, pengajar Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan bagi China, Asia Tenggara adalah halaman belakangnya, sehingga berkepentingan untuk  memastikan agar kawasan tersebut sesuai dengan keinginan mereka.

Kendati China memiliki proyek BRI di kawasan, negara-negara Asia Tenggara juga berhati-hati menjalin hubungan lebih erat, di tengah kompetisi Beijing dengan Washington.

“Seperti Indonesia, secara ekonomi sangat bergantung dengan China, tapi secara postur keamanan cenderung ke Amerika Serikat,” ujar dia pada BenarNews.

Karena itu, China akan tetap menahan diri untuk tidak terlalu agresif di kawasan meski mempunyai masalah teritorial di Laut China Selatan dengan berbagai negara Asia Tenggara, ujarnya.

Nur Rachmat Yuliantoro, juga pengajar di jurusan yang sama di UGM mengatakan kunjungan Wang Yi ke Asia Tenggara ini menyiratkan pesan bahwa China akan tetap menjadi “negara yang bersahabat” di kawasan itu.

“China adalah aktor utama dalam dinamika politik dan keamanan di Asia Tenggara,” tegasnya.

Dengan kekuatan keras (hard power) dan kekuatan lunak (soft power) yang dimiliki, China berpotensi besar mengembangkan kerja sama soal keamanan dan perdamaian dengan negara-negara Asia Tenggara.

“Hal itu bisa saja terjadi, namun dengan tetap mempertimbangkan faktor AS yang tentunya tidak ingin ada halangan bagi kepentingan nasionalnya di kawasan,” tutupnya.

 

Share:

Kamis, 07 Juli 2022

Jokowi Targetkan Indonesia Menjadi Ketua ASEAN 2023

Upaya Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuka jalur komunikasi antara Ukraina, Rusia, serta kelompok negara-negara G7 dinilai bisa menjadi uji kasus sebelum menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara atau ASEAN di tahun 2023.

Selain itu, menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali pada bulan November mendatang, dinilai dapat menjadi platform tepat untuk menunjukkan peran Indonesia kepada dunia.

Dilansir dari laman DW Indonesia, Minggu (3/7/22), kunjungan Jokowi ke Eropa membawa setidaknya tiga misi utama. Yaitu, mengajak negara-negara anggota G7 mengakselerasi perdamaian di Ukraina serta mencari solusi secepatnya dalam mengatasi krisis pangan dan energi yang melanda dunia.

Kedua, mengajak Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk membuka komunikasi dengan Rusia agar perang segera berhenti dan mengaktifkan kembali rantai pasokan makanan.

Terakhir, mempersuasi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk berdialog dengan Ukraina dan untuk segera melakukan gencatan senjata, serta menghentikan perang.

Waffa Kharisma, peneliti hubungan internasional lembaga think tank Centre for Strategic and International Studies (CSIS) memaparkan, lawatan tersebut menjadi momentum yang tepat bagi kepentingan Indonesia sebagai tuan rumah KTT G20. Apalagi Indonesia akan menjadi ketua ASEAN pada tahun 2023.

"ASEAN tumbuh dengan narasi yang sama dengan misi ke Eropa," ucap Waffa dalam media briefing CSIS bertajuk Memaknai Lawatan Presiden Joko Widodo ke Eropa, Rabu (01/07).

Ia menambahkan, Indonesia harus berorientasi pada pembangunan agar negara di luar ASEAN tidak memandang kawasan Asia Tenggara hanya sebagai ajang perebutan pengaruh dan militer.

Menurutnya, di Asia Tenggara juga banyak isu yang saat ini belum terlihat dampaknya tapi berpotensi membawa disrupsi seperti perang Rusia - Ukraina. "Krisis Myanmar, stabilitas di Laut Cina Selatan. Perlu mendapat perhatian Indonesia supaya (dapat) mencegah ketidakpercayaan dan peningkatan eskalasi," ungkap Waffa.

Dalam posisinya sebagai pemimpin ASEAN nanti, Indonesia diprediksi membawa agenda pemulihan ekonomi serta percepatan pembangunan. Oleh karena itu perlu menciptakan kawasan yang stabil dan damai agar agenda tersebut dapat tercapai.

Waffa menjelaskan bahwa Indonesia memiliki posisi yang terbaik dalam hal netralitas. Indonesia memiliki rekam jejak masa lalu yang cukup baik sebagai aktivis perdamaian, meskipun punya daya tawar terbatas.

 

Share:

Selasa, 05 Juli 2022

Jokowi Kunjungan Ke Eropa Bakal Penting Jadi Ketua ASEAN 2023

Upaya Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) membuka jalur komunikasi antara Ukraina, Rusia, serta kelompok negara-negara G7 dinilai bisa menjadi uji kasus sebelum menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara atau ASEAN di tahun 2023.

Selain itu, menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali pada bulan November mendatang, dinilai dapat menjadi platform tepat untuk menunjukkan peran Indonesia kepada dunia.

Kunjungan Jokowi ke Eropa membawa setidaknya tiga misi utama. Yaitu, mengajak negara-negara anggota G7 mengakselerasi perdamaian di Ukraina serta mencari solusi secepatnya dalam mengatasi krisis pangan dan energi yang melanda dunia.

Kedua, mengajak Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk membuka komunikasi dengan Rusia agar perang segera berhenti dan mengaktifkan kembali rantai pasokan makanan. Terakhir, mempersuasi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk berdialog dengan Ukraina dan untuk segera melakukan gencatan senjata, serta menghentikan perang.

Waffa Kharisma, peneliti hubungan internasional lembaga think tank Centre for Strategic and International Studies (CSIS) memaparkan, lawatan tersebut menjadi momentum yang tepat bagi kepentingan Indonesia sebagai tuan rumah KTT G20. Apalagi Indonesia akan menjadi ketua ASEAN pada tahun 2023.

"ASEAN tumbuh dengan narasi yang sama dengan misi ke Eropa," terang Waffa dalam media briefing CSIS bertajuk Memaknai Lawatan Presiden Joko Widodo ke Eropa, Rabu (01/07).

Ia menambahkan, Indonesia harus berorientasi pada pembangunan agar negara di luar ASEAN tidak memandang kawasan Asia Tenggara hanya sebagai ajang perebutan pengaruh dan militer.

Menurutnya, di Asia Tenggara juga banyak isu yang saat ini belum terlihat dampaknya tapi berpotensi membawa disrupsi seperti perang Rusia - Ukraina. "Krisis Myanmar, stabilitas di Laut Cina Selatan. Perlu mendapat perhatian Indonesia supaya (dapat) mencegah ketidakpercayaan dan peningkatan eskalasi," tutur Waffa.

Dalam posisinya sebagai pemimpin ASEAN nanti, Indonesia diprediksi membawa agenda pemulihan ekonomi serta percepatan pembangunan. Oleh karena itu perlu menciptakan kawasan yang stabil dan damai agar agenda tersebut dapat tercapai.

Waffa menjelaskan bahwa Indonesia memiliki posisi yang terbaik dalam hal netralitas. Indonesia memiliki rekam jejak masa lalu yang cukup baik sebagai aktivis perdamaian, meskipun punya daya tawar terbatas.

Laporan Program Pangan Dunia (WFP) yang dirilis pada Juni 2022 mengatakan sekitar 345 juta penduduk dunia menghadapi kerawanan pangan akut. Penyebabnya ditengarai antara lain lumpuhnya ekspor pupuk dan gandum dari Rusia dan Ukraina.

Peneliti ekonomi CSIS Dandy Rafitrandi mengatakan, kunjungan Jokowi sebagai upaya meningkatkan komunikasi antara negara-negara G7, Rusia, dan Ukraina. Terutama untuk menyelesaikan masalah pasokan makanan dan pupuk.

"Kita harus fokus bagaimana jaminan dari Presiden Putin untuk menjamin rantai pasokan pangan dan pupuk," tutur Dandy. Agenda jangka pendek adalah mengamankan pasokan makanan dan pupuk. Semua negara anggota G20 harus terlibat sebab bisa saja tahun depan terjadi kelangkaan pangan, ujar Dandy.

Kendati demikian, Dandy mewanti-wanti bahwa rantai pasokan pangan dan pupuk kemungkinan tidak bisa langsung kembali stabil dan normal usai KTT G20. Hal itu kembali lagi tergantung rencana tindak lanjut usai pertemuan KTT G20 di Pulau Dewata. Ada beberapa tantangan yang akan akan muncul tahun depan menurut beberapa laporan.

"Krisis pangan, energi, dan inflasi masih jadi tantangan utama masyarakat dunia," kata Dandy sambil melanjutkan bahwa krisis pangan, pupuk, dan energi tidak hanya berdampak pada negara-negara anggota G20.

"Yang paling terdampak adalah negara-negara berkembang yang masih berjuang dengan COVID. Mereka butuh akses vaksin. Berjuang menghadapi inflasi," ungkap Dandy.

Peneliti hubungan internasional CSIS Andrew Mantong menjelaskan, Indonesia telah beberapa kali berperan aktif sebagai perdamaian dalam konflik antarnegara dan dalam krisis politik di suatu negara.

"Pada pertengahan dekade 1990-an, Presiden Soehato melakukan kunjungan ke Sarajevo di tengah bergolaknya konflik di Eropa saat Serbia melancarkan serangan militer terhadap penduduk Bosnia," kata Andrew.

"Apa yang dilakukan Presiden Jokowi saat kunjungan ke Ukraina dan Rusia, adalah upaya membuka komunikasi agar ada negosiasi di kedua belah pihak", kata Andrew. Indonesia membutuhkan kepercayaan dari kedua negara kawasan Eropa Timur tersebut. Kemampuan persuasi atau meyakinkan menjadi tantangan lebih lanjut bagi Jokowi.

Tentunya, menghadapi Putin adalah tantangan tersendiri bagi Jokowi. Sosok Putin menjadi elemen penting agar jalur negosiasi bisa terbuka demi menghentikan perang.

"(Indonesia) harus jeli mencanangkan aksi menjadi mediator dan fasilitator yang efektif," kata Andrew.

Andrew juga menyoroti keterbatasan yang dimiliki Indonesia saat ingin mengerahkan sumber dayanya untuk membuka jalur komunikasi Ukraina dengan Rusia.

"Masa jabatan presiden tersisa dua tahun lagi, menjadi ketua ASEAN 2023, dan pemilu di 2024. Ini akan membatasi peran Indonesia sebagai juru damai," ujar Andrew.

 

Share:

Sabtu, 02 Juli 2022

Jokowi Ajak Pemimpin Negara di KTT G7 Investasi Energi Bersih di Indonesia


Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak pemimpin negara-negara berekonomi maju di forum G7 untuk berinvestasi di sektor energi bersih Indonesia. Hal tersebut disampaikan Jokowi sebagai salah satu representatif negara mitra dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Kastil Elmau, Bayern, Jerman, Senin (27/6/2022).

Jokowi membicarakan peluang investasi energi baru-terbarukan di Indonesia dalam sesi KTT G7 yang membahas krisis iklim, energi, dan kesehatan.

“Terutama peluang investasi di sektor energi bersih di Indonesia, termasuk pengembangan ekosistem mobil listrik dan baterai litium,” kata Jokowi dikutip dari siaran pers Sekretariat Presiden, Senin.

Menurut dia, potensi Indonesia sebagai kontributor energi bersih, baik di dalam perut bumi, di darat, maupun di laut, sangat besar. Indonesia membutuhkan investasi besar dan teknologi rendah karbon untuk mendukung transisi menuju energi bersih yang cepat dan efektif.

“Indonesia membutuhkan setidaknya 25-30 miliar USD untuk transisi energi 8 tahun ke depan. Transisi ini bisa kita optimalkan sebagai motor pertumbuhan ekonomi, membuka peluang bisnis, dan membuka lapangan kerja baru,” tutur dia.

Jokowi juga menyampaikan bahwa Indonesia dan juga negara-negara berkembang lainnya memiliki risiko perubahan iklim sangat nyata. Terlebih, Indonesia adalah negara kepulauan dengan 17.000 pulau.

Risikonya bukan hanya mengganggu kesehatan, namun juga membuat petani dan nelayan dalam kesulitan. Untuk itu, Indonesia mengharapkan dukungan dari negara-negara anggota G7.

“Dukungan semua negara G7 di Presidensi Indonesia di G20 sangat kami harapkan. Sampai bertemu di Bali. Terima kasih,” tutur Jokowi.

Jokowi menghadiri KTT G7 di Jerman sebagai ketua G20. Selain Indonesia, G7 juga mengundang empat negara mitra lain, yakni Argentina, India, Senegal, dan Afrika Selatan.

 


Share:

Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri India Bahas Penguatan Kerja Sama Pangan

    

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi melakukan pertemuan bilateral di sela-sela KTT G7 di Elmau, Jerman, Senin, 27 Juni 2022. Kedua pemimpin membahas upaya penguatan kerja sama di bidang pangan.

“Mengenai kerja sama terkait perdagangan bahan pangan antara dua negara, saya akan minta Menteri Perdagangan Indonesia untuk segera berkomunikasi dengan Menteri Perdagangan India,” ujar Jokowi.

Terkait situasi di Ukraina, Jokowi menyerukan kembali pentingnya perang untuk dihentikan.

“Saya senang Indonesia dan India memiliki posisi yang kurang lebih sama antara lain mendesak penyelesaian secara damai,” ucap Jokowi.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Jokowi juga menyampaikan apresiasi atas dukungan kuat India terhadap Presidensi G20 Indonesia. Indonesia juga akan mendukung penuh Presidensi G20 India tahun depan.

Turut mendampingi Presiden Jokowi dalam pertemuan bilateral dengan PM Modi yaitu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Duta Besar RI untuk Jerman Arif Havas Oegroseno.

 

Share:

Definition List

Unordered List

Support