Tampilkan postingan dengan label Putin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Putin. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 November 2022

Vladimir Putin dipastikan tak hadir dalam KTT G20 di Bali

Pemimpin Rusia Vladimir Putin dipastikan tak hadir dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) G20 di Bali meski Joko Widodo sudah menyampaikan langsung undangan ke Rusia.

Juru bicara Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, Alex Tumaykin, mengonfirmasi Putin absen dari forum ekonomi itu.

"Saya bisa mengonfirmasi bahwa Ketua Delegasi Rusia yang bakal hadir di pertemuan G20 adalah Menlu Rusia Sergei Lavrov," ujar Alex dalam pernyataan resmi pada Kamis

 Meski demikian, Alex menyatakan bahwa Putin kemungkinan bakal hadir secara virtual.

Sejak lama, sejumlah pengamat memang sudah meragukan Putin akan datang ke KTT G20 di Bali, termasuk pengamat lembaga think tank Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), Waffa Kharisma.

"Ketidakhadiran Putin sebetulnya sudah lama bisa diprediksi," kata Waffa

Keraguan ini bahkan sudah muncul setelah Jokowi ke Ukraina dan Rusia untuk mengundang langsung Volodymyr Zelensky dan Putin pada akhir Juni lalu.

Indonesia saat itu mengatakan misi Jokowi mengunjungi dua negara yang tengah berperang untuk membawa misi damai.

Di Ukraina, Jokowi bertemu Zelensky di Kyiv. Mereka membahas perang hingga kerja sama bilateral. Selain itu, Jokowi juga menawarkan diri untuk menyampaikan pesan dari Zelensky ke Putin

Setelah dari Kyiv, Jokowi terbang ke Rusia untuk bertemu Putin. Dalam pertemuan ini, Putin tak banyak membahas soal perang dan misi damai Jokowi.

Orang nomor satu di Rusia itu malah menyinggung kerja sama ekonomi, perdagangan, investasi, pasokan pangan, dan tawaran bantuan untuk ibu kota baru Indonesia, Ibu Kota Nusantara (IKN).

Usai melawat dua negara itu, Jokowi panen pujian.

"Ada pujian bahwa misinya Pak Jokowi berperan untuk menggolkan konsesi Rusia dalam hal blokade pangan, tetapi karena dinamika-dinamika perseteruan yang besar, akhirnya banyak komitmen yang kemudian terlanggar juga," kata Waffa

Namun, Waffa menegaskan Indonesia masih perlu menambah peran kepemimpinan di luar negeri secara konsisten, sehingga memperkuat daya tawar RI sebagai penengah atau negara yang ingin memediasi konflik.

"Kebetulan memang kepemimpinan di luar negeri agak tertinggal di era Pak Jokowi karena prioritas dalam negeri beliau," ucap dia.

Waffa lalu berkata, "Kita perlu sadar bahwa dinamika ancaman perdamaian itu nyata di luar, dan kalau ditinggal, peran kita ya akan terasa dampaknya."

Selain itu, Waffa menyoroti untung-rugi ketidakhadiran Putin di G20. Salah satu keuntungannya, menurut dia, mempermudah sedikit urusan Indonesia sebagai penyelenggara.

Pengamat tersebut menilai sulit memastikan interaksi dalam KTT lancar tanpa ada momen ganjil.

Sementara itu, ada pula kerugian bagi Indonesia dengan ketidakhadiran Putin, yaitu mengganggu presidensi RI.

Terlebih, RI sempat menawarkan diri menjadi juru damai. Beberapa pihak sudah terlanjur berharap ada penyelesaian konflik antara Rusia-Ukraina saat KTT G20.

"Itu memukul agenda kepemimpinan Indonesia di G20. Tidak hanya untuk pemenuhan dan keberlanjutan agenda-agenda global yang diusung, tapi juga terlihat buruk bagi upaya Indonesia menjadi penengah," ujar Waffa.

 

Share:

Senin, 22 Agustus 2022

Sandiaga: Jokowi Bakal Impor Minyak Rusia karena 30 Persen Lebih Murah

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dikabarkan setuju untuk mengimpor minyak dari Rusia karena lebih murah dibandingkan harga pasar internasional.

Hal ini diungkapkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno di akun Instagram-nya @sandiuno, Sabtu (20/8).

Menurut dia, harga minyak Rusia lebih murah 30 persen dibandingkan dengan harga internasional. Hal itu membuat Jokowi tertarik untuk mengimpor minyak dari Negeri Beruang Merah.

"Rusia nawarin ke kita, eh lu mau nggak India sudah ambil nih minyak kita harganya 30 persen lebih murah daripada harga pasar internasional. Kalau buat teman-teman CEO Mastermind ambil ga? Ambil. Pak Jokowi pikir yang sama, ambil," papar Sandi.

Meski lebih murah dari harga pasar, Rusia diduga tetap mendapatkan untung sebesar US$6 miliar per hari. Sementara, biaya untuk perang dengan Ukraina hanya US$1 miliar per hari.

"Jadi Rusia setiap hari profit US$5 miliar," imbuh Sandiaga.

Namun, Sandiaga mengakui beberapa pihak masih ragu untuk mengimpor minyak dari Rusia karena takut diembargo oleh Amerika Serikat (AS). Maklum, setiap pengiriman dolar AS harus dikontrol oleh Negeri Paman Sam.

"Memang tantangannya karena barat (AS) ini kan mau bagaimana pun juga mereka kontrol teknologi, payment. Setiap pengiriman dolar AS harus lewat New York," jelas Sandiaga.

Sandiaga menjelaskan kalau bank di Indonesia dikeluarkan dari Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunications (SWIFT), maka bank asal RI tak bisa mengirim dolar AS.

"Kata Rusia tidak perlu takut, bayar pakai rubel saja. Konversi rupiah ke rubel, nah ini teman-teman di sektor keuangan lagi menghitung," kata Sandiaga.

SWIFT merupakan sistem yang menghubungkan ribuan lembaga keuangan dunia, sehingga bank dapat mengirim dan menerima pesan transaksi dengan cepat dan aman. Dengan SWIFT, transaksi keuangan saat ini dapat dilakukan antar negara bahkan antar benua.

Sebelumya, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati sempat membuka peluang membeli minyak mentah dari Rusia di tengah rentetan sanksi ekonomi dari negara Barat.

"Di saat harga sekarang situasi geopolitik kami melihat ada opportunity untuk membeli dari Rusia dengan harga yang baik," ucap Nicke pada Maret 2022 lalu.

Namun, Pertamina membatalkan rencana itu karena stok BBM di kilang-kilang masih cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional.

 

Share:

Sabtu, 20 Agustus 2022

Jokowi: Xi Jinping dan Putin akan Datang di KTT G20

Presiden Joko Widodo dalam wawancara dengan Bloomberg kemarin mengatakan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin akan datang ke KTT G20 di Bali November mendatang.

"Xi Jinping akan datang. Presiden Putin juga memberitahu saya dia akan datang," kata Jokowi kemarin, seperti dilansir laman South China Morning Post, Jumat (19/8). Ini adalah kali pertama Jokowi memastikan kedua pemimpin negara itu akan hadir di KTT G20.

Kehadiran Xi dan Putin selama ini masih menjadi tanda tanya dan sejumlah negara Barat mengatakan akan memboikot acara itu terutama jika Putin hadir. Operasi militer Rusia di Ukraina yang masih berlangsung saat ini membuat negara Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa menjatuhkan banyak sanksi terhadap Rusia.

Jika kedua pemimpin negara itu hadir maka itu adalah pertama kalinya mereka akan bertemu langsung dengan para pemimpin negara G20 sejak perang di Ukraina meletus pada 24 Februari lalu.

Negara-negara G20 saat ini terbelah dalam hal apakah akan menjatuhkan sanksi terhadap Rusia.

Kementerian Luar Negeri China belum menjawab permintaan tanggapan mengenai rencana kepergian Xi ke luar negeri. Presiden China itu belum sekali pun ke luar negeri sejak dimulainya pandemi. Juru bicara Kremlin menolak berkomentar soal kabar ini tapi pejabat lain yang mengetahui masalah ini membenarkan Putin saat ini berencana akan hadir langsung di KTT G20 Bali.

Presiden Jokowi dan Putin membahas persiapan G20 di Bali dalam sambungan telepon kemarin. Namun Kremlin tidak menyebut Putin akan hadir.

Kehadiran Putin di Bali nanti juga akan membuat dia bertemu langsung pertama kali dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sejak perang dimulai karena Zelenskky juga rencananya akan hadir secara virtual di Bali.

Presiden AS Joe Biden sebelumnya menyerukan Rusia dikeluarkan dari G20 menyusul operasi militer negara itu di Ukraina dan sejumlah pejabat AS juga menekan pemerintah Indonesia untuk tidak mengundang Putin ke KTT G20 Bali.

Hubungan AS dan China juga saat ini sedang memanas menyusul kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan beberapa waktu lalu yang memicu China menggelar latihan militer besar-besaran di Selatan Taiwan.

"Persaingan negara besar memang mengkhawatirkan," kata Jokowi dalam wawancara. "Yang kita inginkan di kawasan ini adalah situasi stabil, aman, supaya kita bisa membangun pertumbuhan ekonomi. Dan tak hanya Indonesia saja, negara Asia lainnya pun ingin begitu."

Sebagai tuan rumah KTT G20 Indonesia berupaya menyeimbangkan kekuatan negara-negara besar yang akan hadir di Bali.

"Indonesia ingin berteman dengan siapa saja. Kami tidak punya masalah dengan negara mana pun," kata Jokowi. "Setiap negara punya pendekatan yang berbeda. Setiap pemimpin negara punya pendekatan masing-masing. Yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah investasi, teknologi, itu yang akan mengubah masyarakat kita."

 

Share:

Selasa, 05 Juli 2022

Perdagangan Rusia-Indonesia Naik 65 Persen dalam Lima Bulan Terakhir

Presiden Rusia Vladimir Putin menyambut baik pertumbuhan kerja sama dan perdagangan bilateral dengan Indonesia, berharap bisa meningkatkan hal tersebut di masa yang akan datang, dalam pernyataan pers bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kremlin, Kamis.

Jokowi diketahui berada di Rusia untuk melanjutkan misi perdamaian dengan menemui Presiden Putin, membahas berbagai hal termasuk situasi peperangan di Ukraina, setelah sebelumnya bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Kyiv.

"Secara alami, perhatian khusus diberikan pada perdagangan dan kerja sama ekonomi, yang menunjukkan dinamika yang baik. Pada tahun 2021, misalnya, perdagangan bilateral meningkat lebih dari 40 persen, dan dalam lima bulan pertama tahun ini, peningkatannya lebih dari 65 persen," ujar Putin.

Dalam konteks ini, lanjut Putin, kedua belah pihak menyatakan minatnya untuk meningkatkan kerja Komisi Bersama Rusia-Indonesia untuk Kerjasama Perdagangan, Ekonomi dan Teknik.

"Peluang tambahan untuk membangun kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan, meningkatkan pertukaran komersial antara negara kita. Semua ini membuka peluang baru.

"Kami juga sangat mementingkan penciptaan zona perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia. Kami berharap negosiasi draft kesepakatan terkait akan dilakukan pada akhir tahun dan membuahkan hasil," harap Putin.

Selain ekonomi, perhatian diberikan pada bidang kerja sama yang signifikan seperti pertukaran kemanusiaan, budaya, pariwisata, dan pendidikan. Selain itu, Presiden Putin juga menyebut perluasan kerja sama di bidang perluasan dialog antardaerah dan antaragama, dengan mempertimbangkan fakta bahwa Indonesia adalah negara Islam terbesar di dunia dalam hal populasi.

Diketahui, Jokowi tiba di Rusia, Kamis, 30 Juni 2022 dengan menumpang pesawat Garuda Indonesia GIA-1 yang mendarat di Bandara Vnukovo II sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Selang sehari sebelumnya, Jokowi baru saja bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Istana Maryinsky, Kyiv.

Usai bertemu Putin, Jokowi betolak menuju Abu Dhabi, Uni Emirat Arab dari Bandara Vnukovo II, Moskow, Rusia dengan menggunakan Pesawat Garuda Indonesia GIA-1.

 

Share:

Jokowi Kunjungan Ke Eropa Bakal Penting Jadi Ketua ASEAN 2023

Upaya Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) membuka jalur komunikasi antara Ukraina, Rusia, serta kelompok negara-negara G7 dinilai bisa menjadi uji kasus sebelum menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara atau ASEAN di tahun 2023.

Selain itu, menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali pada bulan November mendatang, dinilai dapat menjadi platform tepat untuk menunjukkan peran Indonesia kepada dunia.

Kunjungan Jokowi ke Eropa membawa setidaknya tiga misi utama. Yaitu, mengajak negara-negara anggota G7 mengakselerasi perdamaian di Ukraina serta mencari solusi secepatnya dalam mengatasi krisis pangan dan energi yang melanda dunia.

Kedua, mengajak Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk membuka komunikasi dengan Rusia agar perang segera berhenti dan mengaktifkan kembali rantai pasokan makanan. Terakhir, mempersuasi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk berdialog dengan Ukraina dan untuk segera melakukan gencatan senjata, serta menghentikan perang.

Waffa Kharisma, peneliti hubungan internasional lembaga think tank Centre for Strategic and International Studies (CSIS) memaparkan, lawatan tersebut menjadi momentum yang tepat bagi kepentingan Indonesia sebagai tuan rumah KTT G20. Apalagi Indonesia akan menjadi ketua ASEAN pada tahun 2023.

"ASEAN tumbuh dengan narasi yang sama dengan misi ke Eropa," terang Waffa dalam media briefing CSIS bertajuk Memaknai Lawatan Presiden Joko Widodo ke Eropa, Rabu (01/07).

Ia menambahkan, Indonesia harus berorientasi pada pembangunan agar negara di luar ASEAN tidak memandang kawasan Asia Tenggara hanya sebagai ajang perebutan pengaruh dan militer.

Menurutnya, di Asia Tenggara juga banyak isu yang saat ini belum terlihat dampaknya tapi berpotensi membawa disrupsi seperti perang Rusia - Ukraina. "Krisis Myanmar, stabilitas di Laut Cina Selatan. Perlu mendapat perhatian Indonesia supaya (dapat) mencegah ketidakpercayaan dan peningkatan eskalasi," tutur Waffa.

Dalam posisinya sebagai pemimpin ASEAN nanti, Indonesia diprediksi membawa agenda pemulihan ekonomi serta percepatan pembangunan. Oleh karena itu perlu menciptakan kawasan yang stabil dan damai agar agenda tersebut dapat tercapai.

Waffa menjelaskan bahwa Indonesia memiliki posisi yang terbaik dalam hal netralitas. Indonesia memiliki rekam jejak masa lalu yang cukup baik sebagai aktivis perdamaian, meskipun punya daya tawar terbatas.

Laporan Program Pangan Dunia (WFP) yang dirilis pada Juni 2022 mengatakan sekitar 345 juta penduduk dunia menghadapi kerawanan pangan akut. Penyebabnya ditengarai antara lain lumpuhnya ekspor pupuk dan gandum dari Rusia dan Ukraina.

Peneliti ekonomi CSIS Dandy Rafitrandi mengatakan, kunjungan Jokowi sebagai upaya meningkatkan komunikasi antara negara-negara G7, Rusia, dan Ukraina. Terutama untuk menyelesaikan masalah pasokan makanan dan pupuk.

"Kita harus fokus bagaimana jaminan dari Presiden Putin untuk menjamin rantai pasokan pangan dan pupuk," tutur Dandy. Agenda jangka pendek adalah mengamankan pasokan makanan dan pupuk. Semua negara anggota G20 harus terlibat sebab bisa saja tahun depan terjadi kelangkaan pangan, ujar Dandy.

Kendati demikian, Dandy mewanti-wanti bahwa rantai pasokan pangan dan pupuk kemungkinan tidak bisa langsung kembali stabil dan normal usai KTT G20. Hal itu kembali lagi tergantung rencana tindak lanjut usai pertemuan KTT G20 di Pulau Dewata. Ada beberapa tantangan yang akan akan muncul tahun depan menurut beberapa laporan.

"Krisis pangan, energi, dan inflasi masih jadi tantangan utama masyarakat dunia," kata Dandy sambil melanjutkan bahwa krisis pangan, pupuk, dan energi tidak hanya berdampak pada negara-negara anggota G20.

"Yang paling terdampak adalah negara-negara berkembang yang masih berjuang dengan COVID. Mereka butuh akses vaksin. Berjuang menghadapi inflasi," ungkap Dandy.

Peneliti hubungan internasional CSIS Andrew Mantong menjelaskan, Indonesia telah beberapa kali berperan aktif sebagai perdamaian dalam konflik antarnegara dan dalam krisis politik di suatu negara.

"Pada pertengahan dekade 1990-an, Presiden Soehato melakukan kunjungan ke Sarajevo di tengah bergolaknya konflik di Eropa saat Serbia melancarkan serangan militer terhadap penduduk Bosnia," kata Andrew.

"Apa yang dilakukan Presiden Jokowi saat kunjungan ke Ukraina dan Rusia, adalah upaya membuka komunikasi agar ada negosiasi di kedua belah pihak", kata Andrew. Indonesia membutuhkan kepercayaan dari kedua negara kawasan Eropa Timur tersebut. Kemampuan persuasi atau meyakinkan menjadi tantangan lebih lanjut bagi Jokowi.

Tentunya, menghadapi Putin adalah tantangan tersendiri bagi Jokowi. Sosok Putin menjadi elemen penting agar jalur negosiasi bisa terbuka demi menghentikan perang.

"(Indonesia) harus jeli mencanangkan aksi menjadi mediator dan fasilitator yang efektif," kata Andrew.

Andrew juga menyoroti keterbatasan yang dimiliki Indonesia saat ingin mengerahkan sumber dayanya untuk membuka jalur komunikasi Ukraina dengan Rusia.

"Masa jabatan presiden tersisa dua tahun lagi, menjadi ketua ASEAN 2023, dan pemilu di 2024. Ini akan membatasi peran Indonesia sebagai juru damai," ujar Andrew.

 

Share:

Senin, 04 Juli 2022

Jokowi Akan Bantu Renovasi Rumah Sakit Ukraina Yang Terdampak Perang

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana mengunjungi Kota Kyiv, Ukraina, Rabu (29/6/2022). Dalam kunjungan ini, Iriana menyerahkan bantuan kemanusiaan berupa obat-obatan kepada Pusat Ilmiah dan Bedah Endokrin, Transplantasi Organ dan Jaringan Endokrin Ukraina di Kota Kyiv.

Bantuan diserahkan secara simbolis. Hal tersebut dilakukan saat Jokowi dan Iriana mengunjungi rumah sakit yang berada di pusat kota Kyiv tersebut usai meninjau Apartemen Lipky di Kota Irpin.

"Tadi saya sama Bapak Jokowi sedikit membantu untuk rumah sakit yang korban dari peperangan," kata Iriana usai menyerahkan bantuan sebagaimana dikutip dari siaran pers Sekretariat Presiden, Rabu (29/6).

Saat ditanya bagaimana kesan mendampingi Jokowi dalam kunjungannya ke Ukraina, Iriana mengatakan harapannya agar perang segera berakhir.

"Dengan bismillah saya mendampingi Bapak, moga-moga peperangan ini segera berakhir karena sangat merinding saya melihat," ujarnya.

Pemerintah Indonesia juga memberikan bantuan melalui Palang Merah Ukraina. Selain itu, Indonesia berkomitmen membantu rekonstruksi rumah sakit yang rusak akibat perang.

"Selain bantuan yang secara simbolis disampaikan Ibu Negara, pemerintah Indonesia juga memberikan bantuan melalui Palang Merah Ukraina dan juga komitmen untuk membantu rekonstruksi rumah sakit yang terdampak perang," jelas Menlu RI Retno Marsudi secara terpisah.

Diketahui, Jokowi membawa misi khusus dalam kunjungannya Ukraina dan Rusia yakni, mengupayakan perdamaian kedua negara yang berkonflik tersebut. Jokowi dijadwalkan akan bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Istana Maryinsky

Jokowi menyampaikan dirinya akan mengajak Presiden Ukraina Zelenskyy untuk membuka ruang dialog dalam rangka perdamaian. Dia menilai perang harus segera dihentikan.

"Akan bertemu dengan Presiden Zelensky misinya adalah mengajak presiden Ukraina untuk membuka ruang dialog, dalam rangka perdamaian untuk membangun perdamaian. Karena perang memang harus dihentikan dan juga yang berkaitan dengan rantai pasok pangan harus diaktifkan kembali," kata Jokowi, Minggu 26 Juni 2022.

Setelah dari Ukraina, Jokowi akan melanjutkan misi perdamaian dengan melakukan kunjungan ke Rusia. Nantinya, dia akan menemui Presiden Vladimir Putin dengan misi yang sama dibawanya ke negara sebelumnya.

"Dari Ukraina saya akan menuju ke Rusia untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin, sekali lagi dengan misi yang sama. Saya akan mengajak Presiden Putin untuk membuka ruang dialog dan sesegera mungkin untuk melakukan gencatan senjata dan menghentikan perang," ungkapnya.

 

Share:

Bertemu Zelensky di Ukraina, Jokowi Tawarkan Diri Jadi Pembawa Pesan untuk Putin


Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya bertemu langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Istana Maryinsky, Kyiv pada Rabu 29 Juni 2022 sore waktu setempat.

Dalam pertemuan itu, Jokowi mengatakan kepada Zelenskyy bahwa kehadirannya merupakan wujud kepedulian masyarakat Indonesia terhadap situasi di Ukraina.

"Jauh-jauh datang ke Ukraina dan menemui Presiden Volodymyr Zelenskyy di istana Maryinsky, saya tidaklah sekedar berkunjung. Kedatangan saya adalah perwujudan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap situasi di Ukraina," dikutip dari akun Instagram @jokowi, Kamis (30/6/2022).

Jokowi pun menawarkan diri kepada Zelenskyy sebagai pengirim pesan untuk nantinya disampaikan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.

"Spirit perdamaian jangan pernah luntur. Dalam kaitan ini, saya datang menawarkan diri untuk membawa pesan dari Presiden Zelenskyy untuk Presiden Putin yang akan saya kunjungi pula," katanya.

Jokowi tekankan bahwa Ukraina begitu penting bagi rantai pasok pangan dunia. Maka dari itu, semua negara harus ikut serta memberikan kelancaran ekspor.

"Penting bagi semua pihak untuk memberikan jaminan keamanan bagi kelancaran ekspor pangan Ukraina, termasuk melalui pelabuhan laut," ungkapnya.

Selain itu, Jokowi mengungkapkan bahwa tahun merupakan peringatan ke 30 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Ukraina. Jokowi pun menyampaikan komitmen Indonesia untuk terus memperkuat kerja sama yang lebih baik bagi Ukraina.

"Pada kesempatan ini saya menyampaikan undang secara langsung kepada presiden Zelenskyy untuk berpartisipasi dalam KTT G20 bulan November tahun ini di Bali," tegasnya. 

Share:

Kamis, 23 Juni 2022

Jadi "Juru Damai" , Jokowi Akan Menuju ke Ukraina-Rusia Akhir Bulan Ini

 




Presiden Joko Widodo berencana untuk melakukan kunjungan ke Ukraina dan Rusia pada akhir bulan ini. Jokowi akan menjadi pemimpin di Asia pertama yang akan berkunjung ke dua negara itu sejak konflik berlangsung.

Dalam kunjungan itu, Jokowi rencananya akan bertemu dengan presiden di masing-masing negara. Dia akan menemui Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

"Presiden Jokowi direncanakan akan mengunjungi Kiev, Ukraina, dan Moskow, Rusia. Kunjungan ke dua negara ini merupakan kunjungan yang dilakukan dalam situasi yang tidak normal. Kita paham situasi saat ini masih sangat sangat-sangat complicated," kata Menlu Retno Marsudi, Rabu (22/6/2022).

Lawatan itu akan dilakukan oleh Jokowi seusai mengikuti pertemuan KTT G7 yang akan berlangsung di Jerman pada 26-27 Juni ini. Usai menghadiri pertemuan tersebut, Jokowi akan terbang ke Ukraina dan Rusia.

"Dalam kunjungan ke Kiev dan Moskow, tentunya Bapak Presiden akan melakukan pertemuan dengan Presiden Zelensky dan Presiden Putin" pungkasnya.

Dia menjelaskan, perang yang terjadi telah memunculkan masalah yang kompleks. Sebagai residen G20 dan salah satu anggota Champion Group dari Global Crisis Response Group yang dibentuk Sekjen PBB, Jokowi memilih untuk berkontribusi terhadap upaya penyelesaian masalah.

"Dunia juga paham mengenai kompleksitas masalah yang ada. Meskipun situasinya sulit dan masalahnya kompleks, sebagai Presiden G20 dan salah satu anggota Champion Group dari Global Crisis Response Group yang dibentuk Sekjen PBB, Presiden Jokowi memilih untuk mencoba berkontribusi, tidak memilih untuk diam. Presiden Jokowi akan merupakan pemimpin Asia pertama yang akan melakukan kunjungan ke dua negara tersebut," jelasnya.

"Presiden Jokowi memilih untuk mencoba berkontribusi, tidak memilih untuk diam. Presiden Jokowi akan merupakan pemimpin Asia pertama yang akan melakukan kunjungan ke dua negara tersebut," tutur dia.

"Indonesia mencoba memberikan kontribusi untuk menangani krisis pangan akibat perang, yang dampaknya dirasakan oleh semua negara, terutama negara berkembang dan berpendapatan rendah," ungkapnya lagi

Setelah kunjungan ke Ukraina dan Rusia, Jokowi juga akan melakukan kunjungan ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Ini untuk menindaklanjuti kerja sama di bidang ekonomi antara kedua negara.

"Kunjungan dimaksudkan untuk menindaklanjuti kerja sama di bidang ekonomi antara kedua negara," kata Retno lagi di kesempatan yang sama.



Share:

Definition List

Unordered List

Support