Tampilkan postingan dengan label Sorgum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sorgum. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Maret 2024

Galakan Diversifikasi Pangan, Pemerintah Terus Mendukung Upaya Pengenalan Sumber Penganti Makanan Pokok Selain Beras Yakni Singkong, Jagung, Kentang, Sorgum Dan Sagu Kepada Masyarakat Sebagai Upaya Menciptakan Ketahanan Pangan

Yogyakarta – Pemerintah terus menggalakkan program diversifikasi pangan dengan memperkenalkan sumber pengganti makanan pokok selain beras, seperti singkong, jagung, kentang, sorgum, dan sagu kepada masyarakat. Langkah ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan negara, serta memperlihatkan kinerja positif pemerintah Jokowi dalam menciptakan stabilitas politik nasional.

Diversifikasi pangan menjadi penting dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan di Indonesia. Dengan memperkenalkan variasi sumber makanan, masyarakat dapat mengurangi ketergantungan pada satu jenis bahan makanan saja, dalam hal ini, beras. Hal ini juga dapat membantu menjaga stabilitas harga pangan dan memastikan ketersediaan makanan yang cukup bagi seluruh lapisan masyarakat.

Langkah pemerintah ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan negara, tetapi juga membantu mendorong perkembangan ekonomi di berbagai daerah. Dengan memperkenalkan dan mengembangkan potensi sumber pangan lokal seperti singkong, jagung, kentang, sorgum, dan sagu, pemerintah membuka peluang bagi petani dan produsen lokal untuk meningkatkan produksi dan pendapatan mereka.

Selain itu, diversifikasi pangan juga memiliki dampak positif terhadap kesehatan masyarakat. Makanan dari berbagai sumber pangan memberikan variasi gizi yang lebih baik bagi tubuh, serta membantu mengurangi risiko defisiensi nutrisi yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Komitmen pemerintah dalam mendukung diversifikasi pangan juga mencerminkan keterlibatan dan partisipasi aktif dalam pembangunan berkelanjutan. Dengan memperkenalkan sumber pangan alternatif yang lebih ramah lingkungan, pemerintah Jokowi menunjukkan keseriusannya dalam menjaga keberlanjutan lingkungan serta mendorong pertanian yang berkelanjutan.

Langkah-langkah positif pemerintah dalam mendukung diversifikasi pangan juga membantu memperkuat citra positifnya di mata masyarakat. Ketika pemerintah aktif terlibat dalam memecahkan masalah krusial seperti ketahanan pangan, hal ini memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa pemerintahnya benar-benar bekerja untuk kepentingan mereka.

Dengan demikian, program diversifikasi pangan yang digalakkan oleh pemerintah Jokowi bukan hanya sekadar langkah teknis dalam mengatasi masalah ketahanan pangan, tetapi juga merupakan strategi politik yang cerdas dalam memperkuat stabilitas politik nasional. Melalui langkah ini, pemerintah tidak hanya menciptakan ketahanan pangan yang lebih baik, tetapi juga memperkuat kinerja positifnya dan citra positifnya di mata masyarakat.

 

Share:

Sabtu, 27 Agustus 2022

Jokowi Kampanye Tanam Sorgum, Begini Peluangnya di RI

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendorong substitusi impor agar tidak menggerus devisa negara. Apalagi, jika produk yang diimpor rentan dengan gejolak di pasar global.

Salah satu produk yang didorong segera memenuhi substitusi adalah gandum. Di mana, menurut Jokowi, Indonesia mengimpor sekitar 11 juta ton gandum. Sementara, gandum saat ini tengah terkena efek domino perang Rusia-Ukraina hingga memicu lonjakan harga dan keterbatasan pasokan.

Untuk itu, Jokowi mendorong penanaman sorgum, tanaman penghasil biji-bijian yang dapat diolah menjadi tepung seperti gandum.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika mengungkapkan, produksi sorgum hingga kini masih tergolong sedikit sehingga membuat industri belum bisa menyerap secara maksimal.

"Sesuai perkembangan, kan belum banyak, dan ini sudah ada beberapa yang tumbuh, terutama di industri menengah dan kecil. Jadi kalau kebutuhan terpenuhi bisa masuk ke industri-industri, kita coba matchmaking -an dengan industri besar. Kalau sekarang suplainya (dikit), namun mulai tumbuh beberapa industri sorgum yang menengah kecil," katanya kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (25/8/2022).

Indonesia sendiri belum masuk sebagai negara penghasil sorgum dunia.

Saat ini, menurut Indexmundi, produsen utama sorgum dunia adalah Amerika Serikat, Niggeria, Sudan, Meksiko, Etiopia, India, Argentina, China, Brasilm dan Burkina Faso. Sedikitnya stok membuat industri di dalam negeri belum leluasa untuk mengandalkan sorgum sebagai bahan baku.

"Di industri pasti inovasi, kreatif akan tumbuh kalau bahannya, kesediaan bahan baku sudah ada. Nggak akan sulit berkreasi kalau bahan bakunya (tersedia)," kata Putu.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sempat mengatakan, luas tanam sorgum hingga Juni 4.355 hektar (ha) yang tersebar di 6 provinsi. Adapun produksinya 15.243 ton atau dengan produktivitas 3,63 ton per ha.

Jumlah ini masih kalah jauh dari negara lain seperti Amerika Serikat yang mencetak 9,67 juta ton, Nigeria 7 juta ton dan Sudan 5 juta ton.

"Ini sedang didorong untuk penyediaan bahan baku, paling nggak jadi tepung, jadi jajanan, makanan, banyak itu," ujar Putu Juli.

Sebelumnya, di hadapan pengusaha KADIN, Jokowi kembali mengajak pengusaha berinvestasi di Sorgum. Banyak lahan yang bisa dijadikan untuk berbisnis ini, apalagi menurutnya bisnis pangan menjadi yang menguntungkan saat ini.

"Dalam kondisi sesulit apa pun pasti ada peluang. Dan yang bisa memakai peluang itu adalah entrepreneur, wirausahawan, bapak ibu sekalian, nggak ada yang lain. Peluangnya apa? Ada krisis pangan berarti peluangnya ada di pangan. Jualan pangan itu paling cepat sekali," kata Jokowi saat perayaan HUT Kemerdekaan RI bersama KADIN.

 

Share:

Senin, 08 Agustus 2022

Jokowi Ingin Kembangkan Sorgum Sebagai Subtitusi Gandum, Ekonom: Belum Bisa

Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menilai langkah pemerintah untuk mengembangkan sorgum untuk mengalahkan gandum sebagai substitusi impor tidak akan mudah.

"Belum bisa. Skala produksinya masih terlalu kecil," ujar Bhima kepada Tempo pada Sabtu, 6 Agustus 2022.

Persoalan skala produksi ini menurutnya penting karena hanya sebagian wilayah di Nusa Tenggara atau di Indonesia bagian Timur yang bisa ditanami sorgum. Sementara di wilayah lainnya, masyarakat lebih tertarik menanam beras karena faktor stabilitas harga.

"Ada harga pembelian beras atau gabah dari Bulog misalnya. Jadi ada kepastian lanjutan bisnis jangka panjang bagi petani," ucapnya.

Selain masalah lahan, menurut Bhima jika pemerintah ingin membuat food estate sorgum seharusnya perbaiki dulu food estate yang sudah ada sekarang. Sebab, banyak food estate yang masih belum baik dari segi on farm maupun off farm-nya, juga pada saat pengerjaan maupun saat pengolahan paska panennya.

Kegagalan dalam proyek food estate saat ini, kata dia, harus menjadi pelajaran terlebih dahulu bagi pemerintah agar bisa menata kekurangannya. Seperti masalah irigasi, masalah manajemen, maupun persoalan kerja sama dengan para petani yang terjadi di banyak daerah food estate.

"Sehingga aneh sebenarnya ketika food estate rame gitu. Padahal dalam dua tahun terakhir luas lahan panen padi itu turun 2 persen di tahun 2021, data dari BPS," tuturnya.

Untuk tanaman beras saja, menurutnya, food estate itu terbukti gagal, apalagi ketika mengembangman sorgum. Terlebih mimpi pemerintah besar sekali untuk menjadikan sorgum sebagai pengganti dari gandum.

Bhima menjelaskan komoditas sorgum itu banyak juga digunakan untuk bio ethanol atau untuk bahan bakar, sama halnya dengan tebu. Jadi kegunaan sorgum terbagi dua, sehingga pemerintah harus memilih ke arah mana pengembangan yang akan dilakukan, apakah untuk energi atau untuk pangan.

Ia berpendapat jika proyek pemerintah ini hanya sebagai inisiasi, maka masih memungkinkan tercapai. Namun apabila targetnya untuk mengantikan posisi gandum, menurutnya belum bisa. "Dan saya kira yang paling penting sekarang kalau mau serius gausah muluk-muluk lah, untuk sorgum bisa menjadi pangan yang bisa menggantikan beras di kawasan NTB NTT itu sudah lebih dari bagus," ujarnya. 

Bhima berharap pemerintah dapat memperbaiki dulu food estate yang sudah ada sekarang, baru membahas soal komoditas lainnya. Sehingga anggaran untuk proyek tersebut tidak terbuang percuma. Apalagi jika pemerintah ingin menjawab krisis pangan, perlu dipikirkan jangka waktu proyek ini membuahkan hasil. 

 

Share:

Sabtu, 06 Agustus 2022

Jokowi Minta Jajarannya Siapkan Peta Jalan Produksi Sorgum hingga 2024

Presiden Joko Widodo meminta jajarannya untuk membuat peta jalan atau roadmap terkait produksi dan hilirisasi sorgum hingga 2024 mendatang Arahan tersebut disampaikan presiden saat menggelar rapat internal dengan jajarannya di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (4/8/2022).

"Bapak Presiden minta agar dibuatkan roadmap sampai tahun 2024," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangannya usai rapat.

a menuturkan, hingga saat ini realisasi pengembangan sorgum masih sekitar 4.355 hektare yang tersebar di enam provinsi dengan hasil produksi mencapai 15.243 ton atau sekitar 3,36 ton per hektare. Dalam kesempatan tersebut, Airlangga juga melaporkan target musim sasaran tanam sorgum pada 2022 sebesar 15.000 hektare. Selain itu, pemerintah juga akan melakukan pengembangan sasaran tanam sorgum hingga 154.000 hektare pada 2024 mendatang.

"Bapak Presiden minta bahwa diprioritaskan untuk daerah Nusa Tenggara Timur di Kabupaten Waingapu yang kemarin sudah dilihat oleh Bapak Presiden," kata Airlangga. "Dan di tahun 2023 dipersiapkan lahan sejumlah 115.000 hektare, dan di tahun 2024 sebesar 154.000 hektare," ungkapnya. Airlangga menjelaskan bahwa saat ini produksi sorgum di Indonesia masih tergolong rendah. Padahal tanaman tersebut diyakini mampu menjadi komoditas pengganti tanaman lainnya, seperti penganti jagung dalam bahan baku pembuatan pakan ternak, dan bisa juga dijadikan bioetanol.

"Industri pakan ternak sekarang bahan bakunya 50 persen jagung dan 50 persen protein lain. Tentu dari protein lain ini salah satunya sorgum bisa dijadikan untuk off-taker, untuk pakan ternak," tutur Airlangga. Selain itu, sorgum juga bisa menjadi alternatif pengganti gandum yang saat ini mengalami permasalahan di dunia. Menurut Airlangga, sejumlah negara telah mengeluarkan kebijakan pelarangan ekspor gandum, antara lain Kazakhstan, India, Afganistan, Serbia, hingga Ukraina.

"Dengan demikian tentu kita harus mengembangkan tanaman pengganti ataupun subtitusi dari gandum. Indonesia tentu punya beberapa alternatif, selain sorgum itu bisa juga dari tanaman sagu dan singkong," tambahnya.

 

Share:

Definition List

Unordered List

Support