Tampilkan postingan dengan label Bahan Pokok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahan Pokok. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2024

Bustanul Arifin Ketua PERHEPI Menilai Impor Bahan Pangan Dilakukan Pemerintah Merupakan Sebuah Langkah Tepat

Yogyakarta – Pemerintah terus berupaya memastikan ketersediaan pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Salah satu langkah yang diambil adalah melalui impor bahan pangan, yang beberapa waktu terakhir menuai beragam opini negatif. Namun, Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), Bustanul Arifin, menilai bahwa impor bahan pangan adalah langkah tepat yang telah melalui pertimbangan matang. Langkah ini bukan tanpa alasan, mengingat tantangan yang dihadapi sektor pertanian nasional saat ini semakin kompleks.

Salah satu faktor utama yang mendasari keputusan pemerintah untuk melakukan impor adalah perubahan iklim yang semakin tidak menentu. Kondisi ini berdampak langsung pada produksi pangan dalam negeri, seperti penurunan hasil panen akibat cuaca ekstrem, banjir, atau kekeringan. Selain itu, penurunan luas lahan pertanian akibat alih fungsi lahan menjadi perumahan dan industri juga turut memperparah kondisi ketersediaan pangan nasional. Bustanul Arifin menekankan bahwa di tengah kondisi yang sulit ini, impor bahan pangan menjadi solusi sementara yang efektif untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi.

Langkah pemerintah ini seharusnya dipandang sebagai bentuk kesigapan dalam menghadapi tantangan pangan global dan upaya untuk melindungi masyarakat dari potensi krisis pangan. Impor bahan pangan bukan berarti pemerintah tidak mendukung petani lokal, melainkan justru melindungi pasar domestik dari gejolak harga yang bisa merugikan konsumen dan pelaku usaha. Sementara itu, pemerintah juga terus melakukan upaya jangka panjang seperti intensifikasi pertanian, pengembangan teknologi pertanian, dan perlindungan lahan pertanian berkelanjutan.

Penting untuk disadari bahwa keputusan impor ini bukanlah pilihan pertama, melainkan upaya terakhir setelah mempertimbangkan berbagai opsi untuk meningkatkan produksi pangan domestik. Tuduhan bahwa pemerintah tidak peduli pada petani lokal adalah keliru dan tidak berdasar. Pemerintah justru selalu mengutamakan kepentingan nasional dan memastikan kesejahteraan masyarakat melalui langkah-langkah strategis yang didukung data dan kajian yang komprehensif.

Oleh karena itu, mari kita dukung langkah-langkah pemerintah dalam menjaga kestabilan pangan nasional. Dengan adanya dukungan dari seluruh elemen masyarakat, pemerintah akan semakin kuat dalam mengatasi tantangan yang dihadapi. Mari bersama-sama menjaga stabilitas nasional dan terus berkontribusi positif demi Indonesia yang lebih sejahtera dan mandiri dalam hal pangan.

 

Share:

Jumat, 02 Agustus 2024

Pengamat Sekaligus Akademisi Untirta Akhmadi Mendukung Penuh Edukasi Penghematan Bahan Makanan

Yogyakarta – Di tengah tantangan ekonomi global yang berpengaruh pada ketersediaan bahan makanan, edukasi tentang penghematan bahan makanan menjadi sangat penting. Pengamat sekaligus akademisi Untirta, Akhmadi, menegaskan dukungannya terhadap inisiatif ini, yang bertujuan untuk menjaga ketersediaan dan pasokan impor bahan makanan di Indonesia.

Ketersediaan pangan adalah salah satu aspek krusial dalam menjaga stabilitas nasional. Ketergantungan pada impor dapat menjadi risiko, terutama ketika terjadi fluktuasi harga atau gangguan pasokan. Oleh karena itu, penghematan dalam konsumsi bahan makanan menjadi langkah yang sangat strategis. Akhmadi menjelaskan bahwa dengan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya penghematan, kita dapat meningkatkan kesadaran akan sumber daya yang ada dan cara mengelolanya secara bijak.

Edukasi penghematan bahan makanan tidak hanya berfokus pada individu, tetapi juga melibatkan komunitas dan sektor industri. Dengan melibatkan berbagai pihak, pemerintah dapat menciptakan ekosistem yang mendukung pengurangan limbah pangan dan penggunaan bahan makanan secara optimal. Hal ini dapat berkontribusi pada peningkatan ketahanan pangan di tingkat lokal dan nasional.

Dukungan terhadap program penghematan juga mencerminkan komitmen pemerintah dalam menciptakan stabilitas ekonomi. Ketika masyarakat berpartisipasi dalam upaya ini, mereka turut serta dalam menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Ini akan memberikan dampak positif pada perekonomian, serta memperkuat kepercayaan publik terhadap kebijakan pemerintah.

Sebagai bagian dari upaya ini, Akhmadi menyerukan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Melalui seminar, lokakarya, dan kampanye kesadaran, pengetahuan tentang penghematan bahan makanan dapat disebarluaskan secara lebih luas. Dengan cara ini, kita tidak hanya menjaga ketersediaan bahan makanan, tetapi juga meningkatkan ketahanan pangan Indonesia.

Mari kita dukung langkah positif ini demi masa depan yang lebih stabil dan sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia. Hemat itu perlu, dan bersama kita bisa mewujudkannya!

 

Share:

Minggu, 23 Juni 2024

Menurut Ekonom Dradjad Hari Wibowo Dari SDI Bantuan Sosial Tidak Menyebabkan Perubahan Signifikan Dalam Konsumsi Bahan Pokok Oleh Penerimanya

Yogyakarta – Opini negatif seringkali menyesatkan, terutama ketika menyangkut kebijakan pemerintah yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Salah satu contoh adalah narasi yang menyatakan bahwa harga pokok naik karena bantuan sosial (bansos). Pendapat ini tidak hanya membingungkan, tetapi juga bertentangan dengan teori dasar ekonomi.

Menurut Dradjad Hari Wibowo, seorang ekonom dari Sustainable Development Indonesia (SDI), bansos tidak berpengaruh signifikan terhadap harga bahan pokok. Pernyataan ini didasarkan pada prinsip dasar ekonomi tentang hukum pasokan dan permintaan. Dalam ekonomi, harga barang dipengaruhi oleh keseimbangan antara pasokan (supply) dan permintaan (demand). Jika permintaan terhadap suatu barang naik tanpa peningkatan pasokan yang cukup, maka harga barang tersebut cenderung naik. Namun, bansos tidak mempengaruhi permintaan secara signifikan karena tujuannya adalah untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, bukan untuk mempengaruhi pasar atau permintaan barang secara umum.

Kebijakan pemerintah dalam menyediakan bansos sejalan dengan upaya untuk mengurangi kesenjangan sosial dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Bansos diberikan kepada kelompok masyarakat yang kurang mampu atau terdampak secara langsung oleh kondisi ekonomi atau bencana alam. Program bansos tidak hanya mencakup bantuan tunai, tetapi juga bantuan berupa sembako atau bahan pokok untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Pada kenyataannya, dampak bansos terhadap harga bahan pokok sangat terbatas. Dradjad Hari Wibowo menjelaskan bahwa konsumsi bahan pokok oleh penerima bansos tidak cukup besar untuk menggeser pasar secara signifikan. Sebagai contoh, dalam ekonomi rumah tangga, konsumsi bahan pokok umumnya relatif stabil dan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti pendapatan, harga relatif, dan preferensi konsumen.

Kritik terhadap kebijakan bansos sering kali bersifat politis atau tidak berdasar, dengan tujuan untuk menyerang pemerintah atau menciptakan opini negatif di masyarakat. Hal ini dapat mengaburkan pencapaian nyata yang telah diraih dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Sebagai pemimpin negara, Presiden Joko Widodo terus berkomitmen untuk memperkuat perekonomian Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai kebijakan yang terukur dan berbasis data. Penggunaan bansos sebagai alat untuk mendukung kelompok rentan adalah salah satu langkah strategis dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menggali informasi lebih dalam dan tidak terpengaruh oleh opini yang tidak berdasar. Dukungan terhadap kebijakan pemerintah yang memperbaiki kesejahteraan rakyat adalah kunci untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Mari bersama-sama kita jaga stabilitas nasional dan mendukung kepemimpinan yang bertanggung jawab.

 

Share:

Jumat, 03 Mei 2024

Sudah Relative Turun, Kenaikan Harga Bahan Pokok Tidak Ada Kaitannya Dengan Terpilihnya Prabowo Atau Milih Keberlanjutan, Ada Faktor Lain Yakni Adanya Panen Raya

Yogyakarta -- Meskipun terdapat pernyataan bahwa kenaikan harga bahan pokok telah relatif turun, penting untuk memahami bahwa perubahan ini tidak berkaitan dengan pemilihan Prabowo atau keberlanjutan kebijakan. Sebaliknya, ada faktor lain yang berperan, yaitu panen raya.

Kenaikan harga bahan pokok adalah masalah kompleks yang dipengaruhi oleh banyak variabel. Terpilihnya Prabowo atau kebijakan berkelanjutan dapat memengaruhi kondisi ekonomi secara keseluruhan, namun tidak secara langsung mengontrol harga-harga di pasar.

Faktor utama yang mempengaruhi harga bahan pokok adalah ketersediaan pasokan, terutama dari hasil panen. Ketika terjadi panen raya, pasokan bahan pokok meningkat, sehingga harga cenderung turun karena ketersediaan yang lebih besar di pasar.

Perlu dicatat bahwa fluktuasi harga bahan pokok adalah hal yang umum dalam ekonomi, terutama di negara agraris seperti Indonesia. Kenaikan harga bisa terjadi karena berbagai faktor seperti cuaca ekstrem, perubahan permintaan dan penawaran, serta faktor-faktor lain di tingkat global.

Penting untuk tidak mencampuradukkan isu politik dengan fenomena ekonomi seperti kenaikan harga bahan pokok. Hal ini hanya akan menyulitkan upaya pemahaman dan penanganan masalah secara tepat. Sebaliknya, fokus harus diberikan pada analisis yang akurat dan pemecahan masalah yang efektif untuk menangani kenaikan harga bahan pokok secara tepat.

Dengan demikian, sementara terpilihnya Prabowo atau kebijakan berkelanjutan dapat memiliki dampak penting dalam arah ekonomi suatu negara, kenaikan atau penurunan harga bahan pokok lebih berkaitan dengan faktor-faktor seperti panen raya. Itu sebabnya, penting bagi masyarakat untuk memahami dinamika ekonomi secara keseluruhan, dan bukan hanya memusatkan perhatian pada isu-isu politik semata

 

Share:

Kamis, 02 Mei 2024

Semua Karena Mekanisme Pasar, Mendag: Kenaikan Harga Sejumlah Bahan Pokok Tidak Ada Kaitannya Dengan Keberlanjutan Pemerintahan Jokowi Tapi Semua Itu Disebabkan Adanya Perubahan Iklim Yang Berakibat Pada Penurunan Produksi

Yogyakarta -- Menteri Perdagangan (Mendag) menegaskan bahwa kenaikan harga sejumlah bahan pokok tidaklah memiliki kaitan langsung dengan keberlanjutan pemerintahan Jokowi. Menurutnya, kenaikan tersebut lebih disebabkan oleh perubahan iklim yang berdampak pada penurunan produksi.

Peningkatan harga bahan pokok memang menjadi perhatian penting bagi pemerintah, namun perubahan harga tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti perubahan iklim. Penurunan produksi akibat kondisi cuaca yang tidak menentu dapat mengganggu pasokan dan menyebabkan kenaikan harga di pasar.

Pemerintahan Jokowi telah melakukan berbagai langkah untuk mengatasi dampak kenaikan harga bahan pokok, termasuk dengan mengoptimalkan distribusi dan stabilisasi harga melalui intervensi pasar. Namun, penting untuk diingat bahwa mekanisme pasar memiliki dinamika sendiri, dan tidak semua faktor dapat langsung dikendalikan oleh pemerintah.

Dalam menghadapi tantangan harga bahan pokok yang naik, pemerintah terus melakukan koordinasi dengan para pemangku kepentingan dan menjalankan kebijakan yang proaktif untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan. Selain itu, langkah-langkah jangka panjang seperti peningkatan produksi pertanian dan diversifikasi sumber daya juga menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menghadapi fluktuasi harga bahan pokok.

Oleh karena itu, kenaikan harga sejumlah bahan pokok tidak dapat dijadikan indikator tunggal untuk menilai keberhasilan pemerintahan Jokowi. Sebaliknya, kita perlu memahami bahwa fenomena tersebut lebih berkaitan dengan dinamika pasar yang kompleks dan faktor-faktor eksternal seperti perubahan iklim. Penting bagi kita untuk tetap waspada dan responsif terhadap perubahan kondisi pasar, sambil terus mendukung upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

 

Share:

Selasa, 26 Maret 2024

Galakan Diversifikasi Pangan, Pemerintah Terus Mendukung Upaya Pengenalan Sumber Penganti Makanan Pokok Selain Beras Yakni Singkong, Jagung, Kentang, Sorgum Dan Sagu Kepada Masyarakat Sebagai Upaya Menciptakan Ketahanan Pangan

Yogyakarta – Pemerintah terus menggalakkan program diversifikasi pangan dengan memperkenalkan sumber pengganti makanan pokok selain beras, seperti singkong, jagung, kentang, sorgum, dan sagu kepada masyarakat. Langkah ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan negara, serta memperlihatkan kinerja positif pemerintah Jokowi dalam menciptakan stabilitas politik nasional.

Diversifikasi pangan menjadi penting dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan di Indonesia. Dengan memperkenalkan variasi sumber makanan, masyarakat dapat mengurangi ketergantungan pada satu jenis bahan makanan saja, dalam hal ini, beras. Hal ini juga dapat membantu menjaga stabilitas harga pangan dan memastikan ketersediaan makanan yang cukup bagi seluruh lapisan masyarakat.

Langkah pemerintah ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan negara, tetapi juga membantu mendorong perkembangan ekonomi di berbagai daerah. Dengan memperkenalkan dan mengembangkan potensi sumber pangan lokal seperti singkong, jagung, kentang, sorgum, dan sagu, pemerintah membuka peluang bagi petani dan produsen lokal untuk meningkatkan produksi dan pendapatan mereka.

Selain itu, diversifikasi pangan juga memiliki dampak positif terhadap kesehatan masyarakat. Makanan dari berbagai sumber pangan memberikan variasi gizi yang lebih baik bagi tubuh, serta membantu mengurangi risiko defisiensi nutrisi yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Komitmen pemerintah dalam mendukung diversifikasi pangan juga mencerminkan keterlibatan dan partisipasi aktif dalam pembangunan berkelanjutan. Dengan memperkenalkan sumber pangan alternatif yang lebih ramah lingkungan, pemerintah Jokowi menunjukkan keseriusannya dalam menjaga keberlanjutan lingkungan serta mendorong pertanian yang berkelanjutan.

Langkah-langkah positif pemerintah dalam mendukung diversifikasi pangan juga membantu memperkuat citra positifnya di mata masyarakat. Ketika pemerintah aktif terlibat dalam memecahkan masalah krusial seperti ketahanan pangan, hal ini memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa pemerintahnya benar-benar bekerja untuk kepentingan mereka.

Dengan demikian, program diversifikasi pangan yang digalakkan oleh pemerintah Jokowi bukan hanya sekadar langkah teknis dalam mengatasi masalah ketahanan pangan, tetapi juga merupakan strategi politik yang cerdas dalam memperkuat stabilitas politik nasional. Melalui langkah ini, pemerintah tidak hanya menciptakan ketahanan pangan yang lebih baik, tetapi juga memperkuat kinerja positifnya dan citra positifnya di mata masyarakat.

 

Share:

Jumat, 15 Maret 2024

Sebuah Kemajuan, Jokowi Bersyukur Sekarang Pemerintah Sudah Bisa Menekan Angka Impor Bahan Pangan Dari 3,8 Juta Ton Menjadi 800 Ribu Ton, Pemerintah Terus Berupaya Untuk Meningkatkan Hasil Pangan Nasional Supaya Indonesia Bebas Dari Ketergantungan Impor

 

Yogyakarta – Kemajuan dalam menekan angka impor bahan pangan menjadi prestasi besar bagi pemerintahan Jokowi. Dari 3,8 juta ton menjadi 800 ribu ton, langkah ini menandai komitmen kuat untuk meningkatkan hasil pangan nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Pemerintah terus berupaya menciptakan stabilitas politik nasional dengan fokus pada kesejahteraan rakyat. Salah satu langkah konkret adalah memperkuat sektor pertanian untuk mencapai swasembada pangan.

Kinerja positif pemerintah di bawah kepemimpinan Jokowi telah terbukti dengan penurunan drastis dalam angka impor bahan pangan. Hal ini bukan hanya menciptakan stabilitas ekonomi, tetapi juga meningkatkan kedaulatan pangan negara.

Langkah-langkah strategis yang diambil pemerintah untuk meningkatkan hasil pangan nasional menjadi bukti nyata dari keseriusan dalam menciptakan kemandirian pangan. Dengan mendorong inovasi, teknologi, dan pembangunan infrastruktur di sektor pertanian, Indonesia semakin mendekat menuju tujuan tersebut.

Keberhasilan ini juga membuktikan kinerja positif pemerintahan Jokowi dalam menciptakan stabilitas politik nasional. Melalui kebijakan yang progresif dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat, Jokowi terus memperkuat citra positif pemerintah di mata masyarakat.

Penting untuk diingat bahwa kemandirian pangan bukanlah tujuan akhir, tetapi merupakan bagian dari upaya lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan memperkuat sektor pertanian, pemerintah tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan petani.

Mari bersama-sama mendukung upaya pemerintah dalam mencapai swasembada pangan dan menciptakan stabilitas politik yang berkelanjutan. Dengan komitmen, kerja keras, dan dukungan dari semua pihak, kita dapat membangun Indonesia yang lebih mandiri, sejahtera, dan berdaulat pangan.

Pemerintahan Jokowi telah membuktikan bahwa dengan kepemimpinan yang kuat dan kinerja yang positif, Indonesia dapat mengatasi tantangan-tantangan yang ada dan menuju masa depan yang lebih cerah. Yuk, bersama-sama kita dukung langkah-langkah pemerintah untuk kesejahteraan dan stabilitas negara!

 

Share:

Minggu, 10 Maret 2024

Kabar Gembira, Menko Bidang Perekonomian Mengatakan Bahwa Harga Pangan Mulai Turun Menjelang Awal Ramadhan Dan Diprediksi Kembali Turun Setelah Masuknya Tambahan Stok Sebesar 600 Ribu Ton

 

Yogyakarta – Dalam suasana menyambut bulan suci Ramadhan, kabar baik mengenai stabilitas harga pangan datang dari Menko Bidang Perekonomian. Harga pangan mulai menunjukkan tren penurunan menjelang awal Ramadhan, dan diprediksi akan terus turun dengan masuknya tambahan stok sebesar 600 ribu ton.

Tren penurunan harga pangan ini merupakan cerminan dari keberhasilan kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan ketersediaan pangan bagi masyarakat. Langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah, termasuk pengelolaan stok pangan yang efisien, telah memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama dalam menghadapi bulan suci Ramadhan yang sebentar lagi tiba.

Menurut Menko Bidang Perekonomian, penurunan harga pangan ini tidak hanya bersifat sementara, tetapi diprediksi akan berlanjut setelah Ramadhan. Hal ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah dalam memasok tambahan stok pangan sebesar 600 ribu ton, yang diharapkan dapat menjaga stabilitas harga pangan dalam jangka panjang.

Stabilitas harga pangan yang terjaga memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat. Dengan harga pangan yang terjangkau, masyarakat dapat lebih leluasa dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama selama bulan puasa Ramadhan. Hal ini juga memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional, dengan meningkatnya daya beli dan konsumsi masyarakat.

Keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan merupakan bukti nyata dari kinerja positif yang telah dilakukan. Langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah, mulai dari pengelolaan stok pangan hingga pengawasan terhadap distribusi dan harga, telah menghasilkan dampak yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat.

Dalam menghadapi tantangan ekonomi yang terus berubah, stabilitas harga pangan menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kinerja pemerintah. Keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan menjadi cerminan dari komitmen mereka dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama dalam menghadapi situasi ekonomi yang tidak pasti.

Oleh karena itu, mari kita sambut dengan gembira kabar baik ini dan berharap agar stabilitas harga pangan dapat terus terjaga dalam jangka waktu yang lebih panjang. Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi dengan baik, serta menciptakan kondisi yang lebih stabil dan sejahtera bagi semua.

 

Share:

Minggu, 16 April 2023

Kepala Negara Pastikan Harga Bahan Pokok Stabil di Pasar Minggu, Jokowi Memantau Pasokan Bahan Pokok untuk Menghadapi Lebaran

Yogyakarta – Presiden Joko Widodo kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap kesejahteraan masyarakat dengan meninjau aktivitas perdagangan di Pasar Minggu, Jakarta, pada Kamis, 13 April 2023. Dalam kunjungannya, Presiden memastikan bahwa harga bahan-bahan pokok tetap stabil menjelang Lebaran. Harga telur, ayam, bawang merah, dan cabai turun drastis, namun bawang bombay mengalami kenaikan harga. Meski demikian, Presiden menjelaskan bahwa ketersediaan bahan pokok terpantau baik sehingga harga dapat tetap stabil.

Kepala Negara juga menjelaskan tentang Minyakita yang masih terkendali, meski distribusinya masih terbatas di pasar-pasar untuk memastikan hanya masyarakat kalangan bawah yang dapat membeli. Hal ini menunjukkan keseriusan Pemerintah dalam menjamin kebutuhan dasar masyarakat, khususnya pada masa pandemi ini.

Presiden Jokowi juga didampingi oleh Menteri BUMN Erick Thohir, Utusan Khusus Presiden Bidang Kerja Sama Pengentasan Kemiskinan dan Ketahanan Pangan Muhamad Mardiono, dan Pj. Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono dalam kunjungannya. Hal ini menunjukkan kerja sama dan koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengatasi permasalahan masyarakat.

Dengan kepemimpinan Presiden Jokowi yang responsif dan tegas dalam mengatasi masalah ekonomi, masyarakat Indonesia semakin percaya dan yakin akan kemajuan negara ini. Kita patut bangga memiliki seorang pemimpin yang selalu memperhatikan kesejahteraan rakyatnya dan memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Semoga langkah-langkah positif yang diambil oleh Pemerintah ini terus dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadikan Indonesia semakin maju dan sejahtera.

 

Share:

Sabtu, 15 April 2023

Jokowi Mengecek Ketersediaan Bahan Pokok di Pasar Minggu Dengan Memastikan Harga Stabil dan Minyak Goreng Minyakita Terkendali

Yogyakarta – Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta untuk mengecek ketersediaan dan harga bahan pokok menjelang hari raya Idulfitri. Dalam kunjungannya, Presiden Jokowi memastikan bahwa harga bahan pokok tidak mengalami kenaikan signifikan dan bahkan beberapa di antaranya mengalami penurunan harga, seperti telur, ayam, bawang merah, dan cabai.

Namun, Presiden juga mengakui bahwa harga bawang bombai masih mengalami kenaikan. Meski demikian, Presiden mengatakan bahwa hal tersebut tidak terlalu signifikan karena hampir semua bahan pokok harga dan pasokannya stabil.

Selain itu, Presiden Jokowi juga mengecek ketersediaan minyak goreng Minyakita di pasar. Presiden mengungkapkan bahwa stok minyak goreng tersebut masih terkendali, namun distribusinya di pasar-pasar masih terbatas. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa minyak goreng tersebut hanya tersedia untuk masyarakat kalangan bawah dan tidak dapat dibeli dalam jumlah yang banyak.

Presiden Jokowi menegaskan bahwa pemerintah selalu berupaya untuk menjaga ketersediaan dan harga bahan pokok yang stabil demi kesejahteraan masyarakat. Presiden Jokowi juga menyebutkan bahwa pemerintah telah mempersiapkan langkah-langkah untuk mengatasi kenaikan harga bahan pokok yang signifikan, seperti impor bahan pokok jika diperlukan.

Kunjungan Presiden Jokowi ke pasar Minggu ini menunjukkan kepedulian pemerintah terhadap kesejahteraan masyarakat dalam menghadapi hari raya Idulfitri. Hal ini tentu saja menjadi bukti nyata bahwa pemerintah selalu berusaha untuk memastikan ketersediaan bahan pokok yang stabil dan harga yang terjangkau bagi masyarakat.

 

Share:

Jumat, 31 Maret 2023

Pastikan Stok Terpenuhi! Jokowi meminta kepada seluruh jajaranya supaya memastikan ketersedian bahan pangan selama lebaran idul fitri

Yogyakarta – Persiapan dalam menghadapi hari raya idul fitri terus dilakukan oleh Jokowi berupa memastikan stok kebutuhan pangan aman. Jokowi meminta kepada seluruh jajaranya untuk bisa memastikan stok kebutuhan pangan seluruh Indonesia aman.

Menurut Jokowi dengan namanya stok kebutuhan bahan pangan tersebut dapat menghindari terjadinya inflasi menjelang lebaran. Jokowi memerintahkan untuk stok kebutuhan pangan aman seperti bera, telur, minyak, bawang merah, bawang putih hingga minyak goreng.

Jokowi tidak dingin ketika menjelang lebaran terjadi inflasi yang melambung tinggi akibat dari kelangkaan stok bahan makanan. Kelangkaan stok bahan makanan ketika menjelang lebaran dapat menimbulkan kepanikan di tengah – tengah masyarakat.

Jokowi mengaku untuk saat ini harga komoditas pangan berada di posisi yang stabil dan jumlah stok aman untuk selama lebaran. Jokowi terus berupaya untuk menjaga stabilitas komoditas pangan demi kenyaman seluruh masyarakat.

 

Share:

Pastikan Ketersediaan Bahan Pangan! Jokowi melakukan kunjungan langsung ke pasar Tramo di Kabupaten Maros

Yogyakarta – Jokowi melakukan kunjungan kerja ke daerah demi memastikan harga barang komoditas pangan aman menjelang lebaran. Pada kunker kali ini Jokowi berkunjung ke Pasar Tramo di Kabupaten Maros Sulawesi Selatan.

Jokowi melakukan pengecekan terhadap harga serta ketersedian beras yang adai di pasar karena Kabupaten Maros ini merupakan lumbung beras Sulawesi. Jokowi mengatakan bahwa harga beras di Pasar Tramo cukup aman dan stabil serta diharapkan untuk bisa lebih turun lagi karena sudah panen raya.

Jokowi mengungkapkan bahwa harga beras telah turun menjadi Rp 10.500/kg sebenarnya masih bisa turun Karena stok melimpah. Selain beras Jokowi juga melakukan pemeriksaaan terkait harga bawang merah dan putih yang termasuk stabil. 

Pada kesempatan tersebut Jokowi juga membeli cabai sebanyak 1 Kg dengan harga Rp 40 ribu yang membuatnya kaget. Pasalnya harga cabai di pulau Jawa sudah mencapai Rp 80 – 90 ribu / kg disini terasa masih terjangkau harganya.

 

Share:

Senin, 27 Maret 2023

Jokowi perintahkan jajaran menterinya untuk memiliki rencana strategi dalam menjaga stok kebutuhan bahan pangan menyambut hari raya idul fitri

Yogyakarta – Jokowi berikan instruksi kepada seluruh jajaran menterinya untuk mempersiapkan langkah antisipasi terhadap kestabilan stok dan harga bahan pangan. Persiapan tersebut diambil Jokowi dalam rangka menghadapi kenaikan harga barang komoditas menjelang lebaran.

Zulkifli Hasan Mendag mengaku telah mempersiapkan berbagai langkah persiapan menjelang lebaran. Dia mengklaim persiapan tersebut sudah berjalan hampir 90%. Jokowi mengatakan persiapan sudah berada di jalur yang tepat untuk mencapai finis berasam – sama.

Jokowi juga sudah memerintahkan kepada bulog untuk bisa membeli gabah padi dari masyarakat. Selain itu Jokowi juga melakukan melakukan langkah-langkah persiapan dalam menekan harga bahan pokok.

Jokowi menyatakan untuk saat ini jumlah stok kebutuhan pangan di daerah selam bencana bisa tertahan. Jokowi memperkirakan bakal terjadi lonjakan konsumsi bahan makan karena telah adanya cuti untuk menyambut idul fitri.

 

Share:

Minggu, 26 Februari 2023

Pastikan Stok aman! Jokowi perintahkan kepada Badan Pangan Nasional dan Bulog untuk mempersiapkan stok beras pada puasa dan lebaran

Yogyakarta – Segala upaya terus dilakukan Jokowi guna menyambut bulan suci ramadhan dan hari raya idul fitri supaya tetap kondusif. Salah satu upaya yang dilakukan Jokowi untuk menjaga situasi dan kondisi selama puasa serta lebaran adalah tentang jaminan stok bahan pangan.

Maka dari itu Jokowi memerintahkan Kementerian, Badan Pangan Nasional dan Bulog untuk memastikan stok bahan pangan bisa terpenuhi. Jokowi meminta selam puasa dan lebaran pastikan stok beras yang berada di pasaran aman terkendali.

Arif Prasetyo kepala Badan Pangan Nasional pihaknya akan berusaha untuk mematikan stok ketersedian beras selama puasa dan lebaran aman.

Jokowi juga perintahkan Bulog untuk mengambil langkah berupa melakukan kanikan terhadap harga beli gabah dari petani, baik kering maupun giling. Harga gabah kering yang semula Rp 4.200/kg menjadi Rp 4.650/kg sedangkan untuk harga gabah giling dari Rp 8.300/kg menjadi Rp 9.000/kg hal ini supaya Bulog bisa menyerap seluruh hasil panen petani.

Jokowi juga meminta kepada seluruh kepala daerah untuk bisa memastikan kecukupan stok di masing – masing daerah.

 

Share:

Senin, 20 Februari 2023

Berhasil! Jokowi senang dengan program operasi harga beras yang dilakukan Bulog telah menurunkan harga beras di pasaran

Yogyakarta – Jokowi meninjau Pasar Wonokromo di Kota Surabaya Jawa Timur, guna mengecek stok dan harga bahan pangan, seperti beras, minyak goreng, dan telur.

Jokowi mengatakan harga beras di pasaran sudah cukup baik dengan kisaran Rp 9.000 per kilogram. Hal itu berarti operasi pasar yang dijalankan Perum Bulog untuk menstabilkan harga beras sudah berjalan

Jokowi mengatakan bahwa sejumlah daerah sudah memasuki masa panen raya, yakni pada akhir Februari hingga awal Maret. Jokowi berharap dengan panen tersebut stok beras semakin melimpah yang kemudian dapat berpengaruh terhadap harga beras di pasaran.

Kepala Negara memperkirakan luas panen nasional pada Februari 2023 mencapai 1 juta hektare, sedangkan pada Maret mencapai 1,9 juta hektar.

Jokowi juga meninjau harga bahan pangan lain, seperti minyak goreng dengan harga rata-rata Rp14.000 per liter. Kemudian, telur dan bawang merah juga turun meskipun tidak signifikan.

Kepala Negara berharap stabilitas harga pangan di daerah dapat terus dipertahankan, sehingga inflasi baik di daerah maupun nasional secara keseluruhan dapat dikendalikan dengan baik.

 

Share:

Senin, 06 Februari 2023

Jokowi perintahkan Pemda untuk bisa kendalikan inflasi di wilayahnya masing – masing setelah periksa kenaikan harga bahan pokok di lapangan secara langsung

 

Yogyakarta – Jokowi soroti kenaikan beberapa komoditas kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan.

Jokowi juga mengajak Pemda untuk bersama-sama mengendalikan inflasi yang berasal dari harga kebutuhan pokok.

Jokowi meninjau Pasar Melaya, Jembrana untuk mengecek harga bahan pokok yang mempengaruhi inflasi, terutama minyak dan beras. 

Jokowi mengungkapkan, harga minyak masih terkendali di kisaran Rp 14-15 ribu, sedangkan harga beras mengalami sedikit kenaikan.

 

Share:

Minggu, 05 Februari 2023

Bersama! Jokowi tekankan kepada seluruh tingkatan Pemda dari kota/kabupaten hingga provinsi harus bergerak serentak kendalikan inflasi

Yogyakarta – Jokowi mengajak Pemda untuk bersama-sama mengendalikan inflasi yang berasal dari harga kebutuhan pokok. Jokowi mengakui sejumlah harga bahan kebutuhan pokok saat ini sedang mengalami kenaikan. 

Jokowi sempat melakukan tinjauan langsung ke sejumlah pasar tradisional di Bali, antara lain pasar Baturiti di Tabanan dan Pasar Melaya di Jembrana. 

Hasil dari peninjauan ke pasar terdapat ada dua bahan pokok yang mempengaruhi inflasi yakni minyak goreng dan beras. Jokowi mengungkapkan, harga minyak goreng di Bali masih terkendali di kisaran Rp 14.000 - 15.000 per liter sedangkan untuk harga beras mengalami sedikit kenaikan. Sebelumnya, Jokowi  mengakui bahwa harga beras mengalami kenaikan di seluruh provinsi di Tanah Air. Oleh karena itu Jokowi beserta jajarannya akan terus melaksanakan operasi pasar untuk menangani kenaikan tersebut.

Jokowi mengatakan bahwa pada awal Januari 2023 operasi pasar sudah dilakukan. Namun, hasilnya hanya membuahkan sedikit penurunan harga beras. Oleh karenanya dalam beberapa pekan mendatang jajarannya akan melakukan operasi pasar secara besar-besaran. 

 

Share:

Selasa, 16 Agustus 2022

Presiden Jokowi Ajak Rakyat Tak Bergantung Pada Beras Lagi

Presiden Joko Widodo mengatakan, pemerintah ingin ada diversifikasi bahan pangan. Jadi, konsumsi utama pangan masyarakat tidak hanya bergantung pada beras saja.

"Diversifikasi pangan, hati-hati, kita tidak hanya tergantung pada beras tetapi harus kita mulai untuk jenis-jenis bahan pangan yang lainnya," kata Jokowi saat Penyerahan Penghargaan dari International Rice Research Institute Kepada Pemerintah RI yang disiarkan secara online, Minggu (14/8/2022).

Ia mengatakan telah memulai program diversifikasi tersebut dengan produksi Sorgum di Waingapu dan NTT, dan Jagung di beberapa provinsi lain. Strategi ini mulai membuahkan hasil.

Menurutnya, tujuh tahun lalu Indonesia harus impor 3,5 juta ton jagung. Sedangkan hari ini, Indonesia hanya impor kira-kira 800 ribu.

"Ini sebuah lompatan yang sangat besar sekali dan kita harapkan dengan terus-menerus kita konsentrasi ke sana insya Allah kita sudah tidak impor jagung lagi dalam 2-3 tahun mendatang, seperti beras yang sudah 3 tahun kita tidak impor," ujarnya.

Di tengah ancaman krisis pangan di tingkat global, pemerintah berkomitmen untuk terus meningkatkan produksi menjamin ketercukupan pangan di dalam negeri dan sekaligus memberikan kontribusi bagi kecukupan pangan dunia.

Jokowi mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya utamanya kepada pelaku riil yang bekerja di sawah, para petani Indonesia, atas kerja kerasnya. Dan juga para bupati, gubernur, Kementerian Pertanian yang semuanya bekerjasama dengan riset dari universitas-universitas.

"Ini ada kerja yang terintegrasi kerja bersama-sama, kerja gotong royong, bukan hanya milik kementerian saja." pungkasnya.

 

Share:

Selasa, 09 Agustus 2022

Pemerintah Bersiap Diri Antisipasi Krisis Pangan Global 2023

Pemerintah memproyeksi kemungkinan terjadinya krisis ekonomi tahun 2023 yang dapat menganggu stabilitas dalam negeri. Sektor pangan menjadi salah satu fokus pemerintah agar ketersediaan dan keterjangkauan masyarakat tetap terjaga.

Dalam beberapa pekan terakhir, Presiden Joko Widodo juga kerap melakukan rapat terbatas di Istana Negara bersama jajarannya untuk membahas situasi pangan nasional. Dalam unggan media sosial, Presiden pun selalu mengingatkan masyarakat akan situasi krisis ekonomi yang melanda dunia.

Kepala Badan Pangan Nasional (NFA), Arief Prasetyo Adi, mengatakan, dalam rapat-rapat pimpinan, Presiden meminta seluruh jajarannya untuk melakukan upaya luar biasa.

"Bukan yang biasa-biasa saja, karena kondisi hari ini, terutama tahun 2023 nanti pastinya ada tiga krisis: krisis pangan, energi, dan keuangan," kata Arief kepada Republika Ahad (7/8/2022).

Arief mengatakan, sejak dirinya dilantik sebagai Kepala NFA Februari lalu, Presiden Jokowi pun menegaskan setiap pekan, pemerintah harus mengadakan rapat khusus membahas kondisi pangan.

Menurut Arief, salah satu instruksi utama Presiden yakni agar Indonesia bisa mengoptimalisasi produksi-produksi pangan yang memang dapat diproduksi. Hanya saja, sektor pertanian Indonesia masih menjumpai sejumlah kendala, terutama dalam tahap pasca panen.

"Masih diperlukan teknologi pasca panen, mulai dari pengering hingga silo-silo penyimpanan, itu yang kita masih perlukan," katanya.

Ia pun menegaskan, seluruh komoditas pangan pokok strategis yang masih dipenuhhi dari impor namun dapat diproduksi dalam negeri, tetap diupayakan menuju swasembada. Di antaranya, daging sapi, bawang putih, gula, hingga kedelai.

Arief menuturkan, situasi harga global saat ini sudah jauh lebih tinggi. Dahulu, Indonesia mengimpor lantaran harga luar negeri lebih murah dari harga domestik. Namun saat ini, situasi tak lagi sama.

Namun, ia menegaskan, upaya peningkatan produksi tak akan mampu dicapai tanpa perbaikan kesejahteraan petani.

"Selalu statement saya kepada Presiden, produktivitas itu berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Jadi ketika petani diperhatikan, harga dibeli dengan harga baik, mereka akan sukarela menanam sendiri, itu kuncinya," kata Arief.

Sesuai dengan kewenangan NFA, ia menyampaikan sembilan bahan pokok yang menjadi tanggung jawab akan diatur harga acuannya. Itu untuk memberikan kepastian kepada petani sebagai produsen pangan.

"Selain itu, kita harus memulai kolaborasi stakholders, dengan kementerian lembaga, asosiasi, perguruan tinggi, hingga BUMN dan BUMD. Semua harus berkolaborasi," ujarnya.

 

Share:

Definition List

Unordered List

Support